KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI

 

  1. Pengertian

Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar – mengajar yang ditunjukan untuk mengatasi kebosanan murid sehingga, dalam situasi belajar – mengajar, murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi. Untuk itu anda sebagai calon guru perlu melatih diri agar menguasai keterampilan tersebut.

  1. Tujuan Mengadakan Variasi

Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa, motivasi, dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi dimaksud adalah :

  1. Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar

Dalam proses belajar mengajar perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Sedikit pun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru, karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru.

Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Berbagai faktor memang mempengaruhinya. Misalnya faktor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi di luar kelas yang disarankan siswa lebih menarik daripada materi pelajaran yang diberikan guru, siswa yang kurang menyenangi materi pelajaran yang diberikan guru.

Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar, karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan, akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tercapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran adalah terjadinya perubahan di dalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.

Karena itu, guru selalu memperhatikan variasi mengajarnya, apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.

 

 

  1. Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinya Motivasi

Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di dalam dirinya. Bahkan tanpa motivasi, seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Maka dari itu, guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak di dalam diri setiap siswa selama pengajaran berlangsung.

Dalam proses belajar mengajar di kelas, tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. Untuk bahan tertentu boleh menjadi seorang siswa menyenanginya, tetapi untuk bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. Ini merupakan masalah bagi guru dalam setiap kali mengadakan pertemuan. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan.

Bagi siswa selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi, Yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada di sekitarnya kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya. Maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Disini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.

  1. Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah

Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru. Sikap negatif ini tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada siswi. Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh guru tersebut juga menjadi tidak disenangi. Acuh tak acuh selalu ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran kelas.

Kurang senangnya seorang siswa terhadap guru bisa jadi disebabkan gaya mengajar guru yang kurang bervariasi. Gaya mengajar guru tidak sejalan dengan gaya belajar siswa. Metode mengajar yang dipergunakan itu – itu saja. Misalnya, hanya menggunakan metode ceramah untuk setiap kali melaksanakan tugas mengajar di kelas. Tidak pernah terlihat menggunakan metode yang lain. Misalnya metode diskusi, resitasi, tanya jawab. Problem solving atau cerita.

Ketika mengajar, guru selalu duduk dengan santainya di kursi, tidak peduli bagaimana tingkah laku dan perbuatan anak didik, adalah jalan pengajaran yang cepat membosankan. Guru kurang dapat menguasai keadaan kelas. Kegaduhan biasanya sering terjadi pada sudut – sudut kelas. Akibatnya jalan pengajaran kurang menguntungkan bagi kedua belah pihak, yaitu guru dan siswa. Guru gagal menciptakan suasanan belajar yang membangkitkan kreativitas dan kegairahan belajar siswa. Guru yang bijaksana yang pandai menempatkan diri  dan pandai mengambil hati siswa. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa ingin selalu dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari di sekolah tidak jarang dipertanyakan. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat di sisi guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuai dengan psikologis siswa. Variasi mengajarnya mempunya relevansi dengan gaya belajar siswa. Di sela – sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif, jauh dari sikap permusuhan.

  1. Memberikan Kemungkinan Pilihan dan Fasilitas Belajar Individual

Sebagai seorang guru dituntut untuk mempunyai berbagai keterampilan yang mendukung tugasnya dalam mengajar. Penguasaan metode mengajar yang dituntut kepada guru tidak hanya satu atau dua metode, tetapi lebih banyak ddari itu. Karena diakui, penguasaan metode mengajar dalam jumlah yang banyak lebih memungkinkan guru untuk melakukan pemilihan metode, mana yang akan dipakai dalam rangka menunjang tugasnya mengajar di kelas. Penguasaan terhadap bagaimana menggunakan media merupakan keterampilan lain yang juga diharuskan bagi seorang guru. Demikian juga pengasaan terhadap berbagai perndekatan dalam mengajar di kelas. Pernguasaan dari ketiga keterampilan tersebut (metode, media, dan pendekatan) memudahkan bagi guru melakukan pengembangan variasi mengajar. Tetap jika sebaliknya, maka sulitlah bagi guru mengembangkan variasi mengajar untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus adad di sekolah. Fungsi berguna sebagai alat bantu pengajaran. Fungsinnya sebagai alat peraga. Sebagai sumber belajar adadlah sisi lain dari peranan yang tidak pernah guru lupakan. Lengkap tidaknya fasilitas belajar mempengaruhi pemilihan yang harus guru lakukan. Sangat terbatasnya fasilitas belajar cenderung lebih sedikit alternatif yang tersedia untuk melakukan pemilihan. Misalnya, kurangnya buku yang tersedia untuk suatu bidang studi menyebabkan metode mencatat lebih dominan dan sulit bagi guru untuk melakukan pendekatan individual. Kurangnya fasilitas untuk bidang studi IPA (biologi, kimia, atau fisika) menyebabkan kurangnya keampuhan metode demonstrasi atau metode eksperimen. Maka alternatif yang terpaksa guru lakukan adalah memilih metode ceramah dan metode tanya jawab atau metode peraga ala kadarnya, ketimbang tidak ada kegiatan sama sekali.

  1. Mendorong Anak Didik untuk Belajar

Menyediakan lingkungan belajar adalah tugas guru. Kewajiban belajar adalah tugas anak didik. Kedua kegiatan ini menyatu dalam sebuah interaksi pengajaran yang disebut interaksi edukatif. Lingkungan pengajaran yang kondusif adalah lingkungan yang mampu mendorong anak ditik untuk selalu belajar hingga berahirnya kegiatan belajar mengajar.

Belajar memerlukan motivasi sebagai pendorong bagi anak didik adalah motivasi intrinsik yang lahir dari kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan. Namun sayangnya jarang didtemukan bahwa semua anak didik mempunyai motivasi intrinsik yang sama. Artinya, setiap anak yang hadir di setiap kelas selalu membawa motivasi yang berbeda. Perbedaan motivasi itu terlihat dari sikap dan perbuatan mereka ketika menerima materi pelajaran dadri guru. Pada satu sisi ada anak didik yang senang menerima pelajaran tertentu, tetapi di lain pihak ada juga anak didik yang kurang senang menerima materi pelajaran tertentu, Gejalanya terlihat ada anak didik yang malas mencatat, malas memperhatikan penjelasan guru, dan sebagainya.

Gejala adanya anak didik yang kurang senang menerima pelajaran dari guru tidak harus terjadi, karena hal itu akan menghambat proses belajar mengajar. Di sinilah diperlukan peranan guru, bagaimana upaya menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendodrong anak didik untuk senang dan bergairah belajar. Untuk hal ini, cara akurat yang mesti guru lakukan adalah mengembangkan variasi mengajar, baik dalam gaya mengajar, dalam penggunaan media dari bahan pengajaran, maupun dalam interaksi guru dengan anak didik. Ketiga komponen variasi mengajar sebagaimana disebutkan  di atas tentu saja menyeret kegiatan belajar anak diidk ke dalam berbagai pengalaman yang menarik pada berbagai tingkat kognitif. Anak didik  bergairah belajar .

 

  1. Prinsip Penggunaan

1)      Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai

2)      Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak mengganggu pelajaran.

3)      Direncanakan secara baik, dan secara eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran atau satuan pelajaran.

 

  1. Komponen – komponen keterampilan mengadakan variasi
  2. Variasi dalam cara mengajar guru
    1. Penggunaan variasi suara (teacher voice): variasi suara adalah perubahan suara dari keras menjadi lembut, dari tinggi menjadi rendah, dari cepat berubah menjadi lambat, dari gembira menjadi sedih, atau pada suatu saat memberikan tekanan pada kata – kata tertentu.
    2. Pemusatan perhatian siswa (focusing): Memusatkan perhatian siswa pada hal – hal yang dianggap penting dapat dilakukan oleh guru. Misalnya dengan perkataan “  Perhatikan ini baik – baik,” atau “Nah, ini penting sekali,” atau “Perhatikan dengan baik, ini agak sukar dimengerti.”
    3. Kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence): Adanya kesenyapan, kebisuan, atau “selingan diam” yang tiba – tiba dan disengaja selagi guru menerangkan sesuatu merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. Perubahan stimulus dari adanya suara kepada keadaan tenang atau senyap, atau dari adanya kesibukan atau kegiatan lalu dihentikan akan dapat menarik perhatian karena siswa ingin tahu apa yang terjadi,
    4. Mengadakankontak pandang dan gerak (eye contact and movement): Bila guru sedang berbicara atau berinteraksi dengan siswanya, sebaiknya pandangan menjelajahi seluruh kelas dan melihat ke mata murid – murid untuk menunjukkan adanya hubungan yang intim dengan mereka. Kontak pandang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan untuk mengetahui perhatian atau pemahaman siswa.
    5. Gerakan badan mimik: variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala, dan gerakan badan adaah aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi. Gunanya untuk menarik perhatian dan untuk menyampaikan arti dari pesan lisan yang dimasukkan. Ekspresi wajah misalnya tersenyum, mengkerutkan dahi, cemberut, menaikkan alis mata, untuk menunjukkan kagum, tercengang, atau heran. Gerakan kepala dapat dilakukan dengan bermacam – macam, misalnya menganggukkan, menggeleng, mengangkat atau merendahkan kepala untuk menunjukkan setuju atau sebaliknya. Jari dapat digunakan untuk menunjukkan ukuran, jarak arah ataupun menjentik untuk menarik perhatian. Menggoyangkan tangan dapat berarti “tidak”, mengantkat tangan keduanya dapat berarti “apa lagi?”
    6. Pergantian posisi guru di dalam kelas dan gerak guru (teachers movement): Pergantian posisi guru di dalam kelas dapat digunakan untuk mempertahankan perhatian siswa, Terutama sekali bagi calon guru dalam menyajikan pelajaran di dalam kelas, biasakan bergerak bebas, tidak kikuk atau kaku, dan hindari tingkah laku negatif. Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  • Biasakan bergerak bebas di dalam kelas . Gunanya untuk menenamkan rasa dekat kepada murid sambil mengotrol tingkah laku murid.
  • Jangan membiasakan menerangkan sambil menulis menghadap ke papan tulis.
  • Jangan membiasakan menerangkan dengan arah pandangan ke langit – langit, atau ke luar, tetapi arahkan pandangan menjelajahi seluruh kelas.
  • Bila di inginkan untuk mengobservasi seluruh kelas, bergeraklah perlahan  – lahan dari belakang ke arah depan untuk mengetahui tingkah laku murid.

 

  1. Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran

Media dan alat pengajaran, bila ditinjau dari indera yang digunakan, dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar, dilihat, dan diraba.

Pergantian penggunaan jenis media yang satu kepada jenis yang lain mengharuskan anak menyesuaikan alagt inderanya sehingga dapat mempertinggi perhatiannnya karena setiap anak mempunyai perbedaan kemampuan dalam menggunakan alat inderanya. Ada yang termasuk tipe visual, auditif, dan motorik. Penggunaan alat yang multimedia dan relevan dengan tujuan pengajaran dapat meningkatkan hasil belajar sehingga lebih bermakna dan tahan lama.

Adapun variasi penggunaan alat antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids): alat atau media yang termasuk ke dalam jenis ini iasalah yang dapat dilihat, antara lain grafik, bagan, poster, diorama, spesimen, gambar , film, dan slide.
  2. Variasi alat atau bahan yang dapat didengar (auditif aids): suara guru termasuk ke dalam media komunikasi yang utama di dalam kelas. Rekaman suara, suara radio, musik, deklamasi puisi, sosiodrama, telepon dapat dipakai sehingga penggunaan indera dengar yang divariasikan dengan indera lainnya.
  3. Variasi  alat atau baan yang dapat diraba, dimanipulasi, dan digerakkan (motorik): penggunaan alat yang termasuk ke dalam jenis ini akan dapat menarik perhatian siswa dan dapat melibatkan siswa dalam membentuk dan memperagakan kegiatannya, baik secara perorangan ataupun secara kelompok. Yang termasuk ke dalam hal ini, misalnya peragaan yang dilakukan oleh guru atau siswa, model, spesimen, patung, topeng dan boneka, dapat diguna.kan oleh anak untuk diraba, diperagakan, atau dimanipulasikan.
  4. Variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat dan diraba (audio-visual aids): penggunaan alat jenis ini merupakan tingkat yang paling tinggi karena melibatkan semua indera yang kitga miliki. Hal ini sangat dianjurkan dalam proses belajar – mengajar. Media yang  termasuk AVA ini, misalnya film, televisi, radio, slide projector yang diiringi penjelasan guru tentu saja penggunaannya disesuaikan dengan tujuan pengajaran yang hendak dicapai.

 

  1. Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa

Penggunaan variasi pola interaksi ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejemuan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan murid dalam mencapai tujuan. Adapun pola interaksi dapat digambarkan sebagai berikut :

a)      Pola guru – murid:

G                                Komunikasi sebagai aksi (satu arah)

 

M         M         M

b)      Pola guru – murid – guru:

G                                 Ada balikan (feedback) bagi guru, tidak ada

interaksi antarsiswa

M             M         M

c)      Pola guru – murid – murid:

G                                 Ada balikan bagi guru, siswa saling belajar

satu sama lain

M             M             M

d)      Pola guru – murid, murid – guru, murid – murid:

G                                 Interaksi optimal antara guru dengan murid

dan antara murid dengan murid

M                              M

M          M

 

e)      Pola melingkar:

G                                 Setiap siswa mendapat giliran untuk

M                                M                mengemukakan           sambutan atau jawaban,

M                       M                     tidak diperkenankan berbicara dua kali

M                                 apabila setiap siswa belum mendapat giliran

 

Evaluasi

1. Mengapa seorang guru perlu menguasai keterampilan variasi mengajar?

Jawab :a. Mengatasi kebosanan murid

b. agar murid senantiasa tekun dan antusias

c. mendorong anak didik untuk belajar

d. membentuk kreativitas guru dalam kegiatan belajar mengajar

Skor : 4

2. Dalam mengadakan variasi terdapat prinsip-prinsip penggunaan. Sebutkan prinsip-prinsip tersebut !

Jawab :a. mencapai tujuan belajar

b. lancara dan berkesinambungan

c. terstruktur atau direncanakan secara baik

Skor : 3

3. jika dalam kegiatan belajar mengajar para siswa gaduh dikelas, variasi apa yang dapat dilakukan guru? Jelaskan alasannya !

Jawab : Kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence), alasan : perubahan stimulus dari adanya suara pada keadaan senyap dapat menarik perhatian siswa

Skor : 3

4. komponen-komponen keterampilan mengadakan variasi dibagi menjadi 3 kelompok besar. Jelaskan komponen variasi gaya mengajar guru !

Jawab : a. variasi suara : intonasi, nada, volume, dan kecepatan

b. penekanan (focusing) : penekanan secara verbal

c. pemberian waktu (pausing) : mengubah suara menjadi sepi

d. kontak pandang : seluruh kelas, ke setiap anak didik

e. gerakan anggota badan (gesturing) : mimik wajah, gerakan kepala dan badan

Skor : 10

5. perbedaan kemampuan dalam penggunaan alat indera pada anak menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Variasi apa yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi hal tersebut?

Jawab : a. variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids)

b. variasi alat atau bahan yang dapat didengar (auditif aids)

c. variasi alat atau bahan yang dapat  diraba, manipulasi, dan digerakkan (motorik)

d. variasi alat atau bahan yang dapat didengar, didengar, dan dilihat (audio-visual aids)

About these ads