BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS

Pengelolaan kelas menurut penulis adalah upaya yang dilakukan guru untuk mengkondisikan kelas dengan mengoptimalisasikan berbagai sumber (potensi yang ada pada diri guru, sarana dan lingkungan belajar di kelas) yang ditujukan agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang ingin dicapai. Depdiknas pernah melakukan 6 6 Jurnal Pendidikan Penabur No. 01/Th.I/Maret 2002. Dalam pengelolaan kelas ada dua subjek yang memegang peranan yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pengelola, sebagai pemimpin mempunyai peranan yang lebih dominan dari siswa. Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila proses belajar mengajar uang diselenggarakan di kelas benar-benar efektif dan berguna untuk mencapai kemampuan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diharapkan.

Adam dan Decey (dalam Usman, 2003) mengemukakan peranan guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut : (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kelas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai evaluator.

Menurut Amatembun (dalam Supriyanto, 1991:22) “Pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru dalam menciptakan dan mempertahankan serta mengembang tumbuhkan motovasi belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”

Sedangkan menurut Usman (2003:97) “Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif”

Pengelolaan kelas adalah berbagai kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Pengajaran adalah segala jenis kegiatan yang dengan sengaja kita lakukan dan secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan khusus pengajaran.

Menurut Ahmad (1995:2) bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah sebagai berikut :

  1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
  2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
  3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
  4. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

Tujuan pengelolaan kelas menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:170) pada hakekatnya terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.

Arikunto (dalam Djamarah 2006:178) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Indikator dari sebuah kelas yang tertib adalah :

  1. Setiap siswa terus bekerja, tidak macet artinya tidak ada anak yang terhenti karena tidak tahu ada tugas yang harus dilakukan atau tidak dapat melakukan tugas yang diberikan padanya.
  2. Setiap siswa terus melakukan pekerjaan tanpa membuang waktu, artinya setiap siswa akan bekerja secepatnya supaya lekas menyelesaikan tugas yang diberikan padanya.

Menurut Raka Joni (WordPress.com. 2007), pengelolaan kelas merupakan salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki guru adalah ketrampilan dalam mengelola kelas. Pengelolaan kelas merupaka hal yang berbda dengan pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dalam suatu pembelajaran. Sedangkan pengelolaan kelas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas.

Pentingya pemberian otonomi pendidikan pada sekolah masing-masing untuk menetukan visi dan misinya serta melaksanakannya sehingga menghasilka peserta didik yang selain cerdas, berkeahlian sekaligus berkepribadian tangguh. Untuk itu diperlukan tenaga-tenaga professional, karena membutuhkan kemampuan-kemampuan seorang guru sebagai “Artist, scientist, and technologist”

Penelitian kelas hendaknya dilakukan untuk melihat potret dirinya selaku pendidik, pengajar, dan sebagai pribadi. Bagaimana penilaian peserta didik tentang para gurunya sebagai pendidik, pengajar, dan juga sebagai seorang pribadi. Guru yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator), dalam hubungan(relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah, dan juga relasi dan komunikasi dengan pihak lain (rang tua, komite sekolah, dan pihak terkait), segi administasi sebagai guru, dan sikap profesionalitasnya.

Pengkajian terhadap manajemen kelas akan meningkatkan pemahaman kita dalam memperoleh pencerahan tentang kelas untuk melakukan perbaikan ke depan (Goodlad: 1984). Pengelolaan kelas yang ditekankan pada bagaimana mengelola pribadi-pribadi yang ada akan lebih menolong dan mendukung perkembangan pribadi, baik pribadi peserta didik maupun pribadi gurunya.

Menurut Winataputra (2003), menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah serankaian kegiatan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku siswa yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku siswa yang tidak diharapkan, menciptakan hubungan intertersonal yang baik dan iklim sosial emosional yang positif, serta menetapkan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif.

Akhmad Sudrajat (akhmadsudrajat.wordpress.com) menyatakan bahwa: “Pengelolaan kelaas lebih berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif), didalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas”

Dan menurut Winzer (Winataputra, 1003:9.9) menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah cara-cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.

B. BERBAGAI PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS

Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatan menurut Weber diklasifikasikan kedalam dua pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter dan pendekatan permisif.  Pendekatan otoriter dalam pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengontro; tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat (Weber). Walaupun menggunakan pendekatan otoriter, berbagai aturan yang dirumuskan tentu saja tidak hanya didasarkan pada kemauan sepihak dari pengella sekolah/kelas saja, melainkan dengan memasukkan aspirasi dari siswa. Hal ini penting mengingat aturan yang dibuat diperuntukkan bagi kepentingan bersama, yaitu untuk menunjang terjadinya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien.

Pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan untuk siswa melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan yang mereka inginkan. Menurut pandangan permisif, fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktivitas didalam kelas, tanpa harus merasa takut dan tertekan.

Menurut James Cooper mengemukakan tiga pendekatan dalam pengelolaan kelas, yaitu :

  1. a.         Behaviour – Modification Approach (Behavisiorism Approach)

Asumsi yang mendasari pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk” individu merupakan hasil belajar. Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku negatif). Kendati demikian, dalam penggunaan reinforcement negatif sebaiknya dilakukan secara hati-hati karena jika tidak tepat maka malah hanya akan menimbulkan masalah baru.

  1. b.         Socio – emotional Climate Approach (Humanistic Approach)

Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa proses belajar mengajar yang baik didasari oleh adanya hubungan interpersonal yang baik antara peserta didik – guru dan atau peserta didik – peserta didik dan guru yang menduduki posisi penting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik. Dalam hal ini, Carl A. Rogers mengemukakan pentingnya sikap tulus dari guru (realness, genuiness, congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (acceptance, prizing, caring, trust) dan mengerti dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatic understanding). Sedangkan Haim C. Ginnot mengemukakan bahwa dalam memecahkan masalah, guru berusaha untuk membicarakan situasi, bukan pribadi pelaku pelanggaran dan mendeskripsikan apa yang ia lihat dan rasakan serta mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternatif penyelesaian.

Hal senada dikemukakan William Glasser bahwa guru seharusnya membantu mengarahkan peserta didik untuk mendeskripsikan masalah yang dihadapi, menganalisis dan menilai masalah, menyusun rencana pemecahannya, mengarahkan peserta didik agar berkomitmen terhadap rencana yang telah dibuat, memupuk keberanian menanggung akibat “kurang menyenangkan”, serta membantu peserta didik membuat penyelesaian baru yang lebih baik.

Sementara itu, Rudolf Draikurs mengemukakan pentingnya Democratic Classroom Process, dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat memikul tanggung jawab, memperlakukan peserta didik sebagai manusia yang dapat secara bijak mengambil keputusan dengan segala konsekuensinya, dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati tata aturan masyarakat.

  1. c.          Group Process Approach

Asumsi yang mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa pengalaman belajar berlangsung dalam konteks kelompok sosial dan tugas guru adalah membina dan memelihara kelompok yang produktif dan kohesif. Richard A. Schmuck & Patricia A. Schmuck mengemukakan prinsip-prinsip dalam penerapan pendekatan group proses, yaitu:

a)      Mutual expectations

b)      Leadership

c)      Attraction (pola persahabatan)

d)      Norm

e)      Communication

f)       Cohesiveness

  1. a.      Indikator pengelolaan kelas yang berhasil:
  1. Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas
  2. Sebagai guru jika anda pulang kerumah tidak dalam keadaan sangat lelah.
  3. Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi, contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkn siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain) dengan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.
  4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab
  5. Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi seperti penghilangan hak siswa dan lain-lain.
  6. Guru mengerti bahwa perilaku siswa dikelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari.

Ada dual hal yang membedakan antara guru yang berhasil dan yang tidak.

  1. Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama ditahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.
  2. Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama di tahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.
  1. b.      Kondisi dan situasi belajar

KONDISI FISIK

  1. Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar

-          Jenis Kegiatan (dalam kelas/di ruang praktikum)

-          Jumlah siswa yang melakukan kegiatan

  1. Pengaturan tempat duduk

-          Berbaris

-          Pengelompokan

-          Setengah lingkaran

-          Berbentuk lingkaran

-          Individu

-          Ruang kelas yang tidak normal

  1. Ventilasi dan pengaturan cahaya

Ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa antara lain jendela yang cukup besar agar cahaya matahari masuk dan udara sehat.

  1. Pengaturan penyimpanan barang

Penyimpanan barang hendaknya disimpan ditempat khusus yang mudah dicapai dan diatur sedemikian rupa sehingga barang-barang tersebut segera dapat digunakan.

KONDISI EMOSIONAL

  1. Tipe kepemimpinan

Tipe otoriter (diktator) yang dengan kondisi ini siswa hanya akan aktif kalau ada guru sedangkan kalautidak ada maka tidak akan aktif. Aktivitas belajar mengajar sangat bergantung pada guru dan menuntut banyak perhatian dari guru.

Tipe demokratis lebih memungkinkan terbinanya sikap persahabatan antara siswa dan guru. Sikap ini dapat membantu menciptakan iklim yang menguntungkan bagi terciptanya kondisi proses belajar mengajar yang optimal.

  1. Sikap guru

Dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya guru tetap sabar dan bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa dapat diperbaiki.

  1. Suara guru

Hendaknya dengan suara yang rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penih.

  1. Pembinaan raport

Dengan hubungan baik antara guru dan siswa, diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat.

  1. c.       Administrasi teknik
    1. Absensi

Pengelolaan absensi hendaknya dilakukan secara periodik

  1. Tempat bimbingan siswa

ruangan khusus untuk keperluan bimbingan siswa yang dilakukan guru, wali kelas atau guru pembimbing sekolah

  1. Tempat baca siswa
  2. Tempat sampah
  3. Catatan pribadi siswa

Dengan catatan pribadi siswa, guru akan mengenal siswa secara lengkap termasuk latar belakang kehidupan siswa

Efektivitas Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas merupakan seperangkat perilaku yang kompleks dimana guru menggunakan ini untuk menata dan memelihara kondisi kelas yang akan membantu para siswa mampu mencapai  tujuan tujuan instruksional secara efisien.

Guru sebagai pengelola kelas merupakan orag yang mempunyai peranan yang strategis yaitu sebagai orang merencanakan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dikelas, orang yang akan mengimplementasikan kegiatan yang direncanakan dengan subjek dan objek siswa, menentukan dan mengambil keputusan dengan strategi yang akan digunakan dengan berbagai kegiatan dikelas, dan guru pula yang akan menentukan alternatif solusi untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang muncul. Pandangan-pandangan yang bersifat filosofis dan operasional dalam pengelolaan kelas (Wilford) :

1)      Pendekatan otoriter: siswa perlu diawasi dan diatur

2)      Pendekatan intimidasi: mengawasi siwa dan menertibkan siswa dengan cara intimidasi

3)      Pendekatan permisif: memberikan kebebasan kepada siswa untuk melakukan apa yang diinginkan, guru hanya memantau

4)      Pendekatan resep masakan: mengikuti dengan tertib dan tepat hal-hal yang sudah ditentukan, apa yang boleh dan apa yang tidak

5)      Pendekatan pengajaran: guru menyusun rencana pengajaran dengan tepat untuk menghindari permasalahan perilaku siswa yang tidak diharapkan

6)      Pendekatan modifikasi perilaku: mengupayakan perubahan perilaku yang positif pada siswa

7)      Pendekatan iklim sosio-emosional: menjalin hubungan yang positif antara guru dengan siswa

8)      Pendekatan sistem proses kelompok/dinamika kelompok: meningkatkan dan memelihara kelompok kelas yang efektif dan produktif.

Motivasi

Motivasi guru menjadi dasar pertama untuk keberhasilan guru dalam mengelola kelas. Keberhasilan pengelolaan kelas bergantung pada motivasi guru, artinya guru yang memiliki motivasi tinggi akan dapat mengelola kelas dengan baik dan tepat. Mengelola kelas itu sendiri bukanlah tujuan utama dari setiap guru, akan tetapi apabila guru dapat mengelola kelas dengan baik, maka kegiatan belajar mengajar nya akan berjalan dengan baik dan siswa-siswanya akan berprestasi tinggi. Mengelola kelas merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.

Tujuan guru pada dasarnya adalah bagaimana guru dapat mentransfer materi pelajaran dengan baik, sehingga siswa dapat mengerti dan menerima materi pelajaran yang diajarkan. Disadari atau tidak, motivasi kerja guru akan mempengaruhi perilaku guru dalam melakukan tugasnya. Guru yang hanya mementingkan penghasilan/gaji akan memandang pekerjaannya sebagai sarana untuk mendapatkan uang, dan sekolah merupakan organisasi yang menjamin kesejahteraan guru. Guru akan melakukan banyak pekerjaan lain untuk menambah honornya seperti memberi pelajaran tambahahan dan juga mengajar di banyak sekolah lain. Akibat perilaku yang seperti ini, guru tentu tidak akan sempat mempersiapkan pelajarannya dengan baik ayau memeriksa tugas siswa satu persatu. Guru hanya akan mengajar dengan metode yang mudah dilakukan baginya tanpa memperhatikan apakah siswa-siswanya dapat mengerti materi pelajaran yang diajarkannya.

Sebaliknya, guru yang menaruh perhatian pada perkembangan siswa akan berupaya menyumbangkan segala kemampuannya untuk kepentingan siswa. Guru berupaya membantu siswa yang memiliki kemampuan belajar yang rendah. Guru akan menggunakan berbagai metode mengajar agar siswa dapat mengerti materi pelajaran yang diajarkannya. Guru tersebut akan mempunyai kreativitas yang tinggi, mau mengorbankan waktunya agar siswa bisa berprestasi. Guru akan merasa puas apabila siswa berhasil dengan baik.

Gaya Kepemimpinan

Gaya kepemimpinan diartikan sebagai pola tindak seseorang dari seorang pemimpin sebagai ciri kepemimpinannya. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok ke arah pencapaian tujuan. Gaya kepemimpinan akan menentukan sejauh mana efektivitas kepemimpinan, karena seorang pemimpin yang memiliki gaya kepemipinan yang tepat, akan dapat mengoptimalkan dan memaksimalkan kepemimpinannya.

Para ahli menyatakan bahwa tidak ada satu gayapun yang paling tepat yang dapat mengatasi permasalahan yang muncul dalam berbagai situasi yang berbeda. Pendekatan situasional merupakan alternatif untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang berbeda. Kepemimpinan situasional menjelaskan bagamana seseorang berperilaku sesuai dengan kebutuhan kelas dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Kesiapan/kondisi kemampuan siswa yang tidak sama satu dengan yang lainnya merupakan faktor nyata yang ada didalam kelas dan tidak bisa dihilangkan. Oleh karena itu guru perlu melakukan pengelolaan kelas yang salah satunya berguna untuk mengatasi hal tersebut, sehingga setiap siswa tetap dapat menerima materi pelajaran dengan baik serta berprestasi.

Pengelolaan kelas memiliki tujuan yang jelas yaitu menciptakan dan menjaga kondisi kelas agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. Artinya mampu membimbing para siswa yang kemampuannya memang tidak semuanya sama untuk tetap dapat mengikuti dan menguasai materi pelajaran yang diajarkan.

Gaya kepemimpinan situasional yang dimiliki guru merupakan solusi untuk keberhasilan pengelolaan kelas yang efektif. Dengan gaya kepemimpinan ini guru akan selalu mempelajari kondisi siswa dikelas tempat guru tersebut mengajar, dan kemudian menentukan apa yang harus dilakukan oleh guru sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan tujuan pengajaran dapat tercapai.

Penataan Ruang Kelas

Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/penataan ruang kelas dan isinya. Lingkungan kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara siswa dengan guru, dan antar siswa. Ada beberapa prinsip dalam penataan lingkungan fisik kelas menurut Loisell, yaitu:

1. Visibility (keleluasaan pandangan)

Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang didalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda, atau kegiatan yang sedang berlansung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

2. Accesibility (mudah dicapai)

Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.

3. Fleksibilitas

Barang-barang didalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan, yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi atau kerja kelompok.

4. Kenyamanan

Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.

5. Keindahan

Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berpengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.

Tempat Duduk Siswa

Tempat duduk merupakan fasilitas atau barang yang diperlukan oleh siswa (sekolah formal) dalam proses pembelajaran. Banyak macam posisi tempat duduk yang bisa digunakan didalam kelas, seperti berjejer ke belakang, bentuk setengah lingkaran, berhadapan, dan sebagainya.  Dalam memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan jumlah siswa dalam satu kelas yang disesuaikan pula dengan metode yang akan digunakan. Biasanya posisi tempat duduk berjejer kebelakang digunakan didalam kelas dengan metode belajar ceramah. Untuk metode diskusi dapat menggunakan posisi setengah lingkaran atau berhadapan. Tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan, tetapi seorang guru juga perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri. Bagaimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan dalam arti secara psikologis, misalnya siswa yang hiperaktif, suka melamun, dll. Pada aspek biologis perlu dipertimbangkan postur tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunya tinggi dan atau rendah.

Penataan tempat duduk adalah salah satu upaya yang dilakukan guru dalam mengelola kelas. Karena pengelolaan kelas yang efektif akan menentukan hasil pembelajaran yang dicapai. Dengan penataan tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi belajar yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa.

C. BEBERAPA MASALAH PENGELOLAAN KELAS

Terdapat dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu :

  1. 1.      Masalah Individual

-          Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian)

-          Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan)

-          Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam)

-          Helpessness (peragaan ketidakmampuan).

Keempat masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi juga dapat merugikan orang lain atau kelompok.

  1. 2.      Masalah Kelompok

-          Kelas kurang kohesif, karena alasan jenis kelamin, suku, tingkatan social ekonomi dan sebagainya.

-          Penyimpangan dari norma-norma perilaku yang telah disepakati sebelumnya.

-          Kelas mereaksi secara negatif terhadap salah seorang anggotanya

-          “Membombong” anggota kelas yang melanggar norma kelompok

-          Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.

  1. Dimensi Pengelolaan Kelas
    1. Dimensi Pencegahan

Dimensi pencegahan (preventif) dapat merupakan tindakan guru dalam megatur siswa dan peralatan atau format belajar mengajar yang tepat. Dalam rangka pembinaan pengelolaan di sekolah kita dapat menempuh berbagai usaha antara lain :

  1. Meningkatkan kesadaran diri dari guru
  2. Meningkatkan kesadaran siswa
  3. Sikap tulus dari guru
  4. Menemukan dan pengenalan alternative pengelolaan
  5. Dimensi Tindakan (action)

Dimensi tindakan merupakan kegiatan yang dilakukan guru bila terjadi masalah pengelolaan. Adapun hal yang bisa dijadikan pertimbangan bagi guru adalah :

  1. Lakukan tindakan dan bukan ceramah
  2. Do not bargain
  3. Gunakan control kerja
  4. Nyatakan peraturan dan konsekuensinya
  5. Dimensi Penyembuhan

Dimensi penyembuhan dimaksudkan untuk membina kontrak social yang tidak jalan. Bentuk dari situasi ini :

-          Siswa melanggar sejumlah peraturan sekolah

-          Siswa menolak konsekuensi

-          Siswa menolak sama sekali aturan khusus yang sudah dibuat

 

Langkah-langkah yang dilakukan :

-          Membuat rencana

-          Menentukan waktu pertemuan

-          Pemecahan masalah / kontrak individual

-          Melakukan kegiatan tindak lanjut

  1. Disiplin
    1. Pengertian Disiplin

Disiplin timbul dari kebutuhan untuk mengadakan keseimbangan antara apa yang diinginkan dari orang lain sampai batas-batas tertentu.

  1. Tertib Kearah Siasat

Pembiasaan dengan disiplin di sekolah akan mempunyai pengaruh yang positif bagi kehidupan siswa dimasa yang akan dating.

  1. Sumber-sumber Pelanggaran Disiplin

-          Tipe kepemimpinan guru atau kepala sekolah

-          Kelompok besar siswa dikurangi hak-haknya

-          Kurang memperhatikan kelompok minoritas

-          Kurang dilibatkan dalam kegiatan tanggung jawab sekolah

  1. Penanggulangan Pelanggaran Disiplin
    1. Pengenalan Siswa

Pengenalan terhadap mereka dan latar belakang merupakan usaha penanggulangan pelanggaran disiplin. Berbagai alat bisa digunakan antara lain :

  • Interest Inventory (pertanyaan tentang hobby, favorit, guru yang paling disukai/dibenci)
  • Sosiogram (hubungan social psikologis dengan teman-temannya)
  • Feedback letter (membuat karangan tentang perasaan terhadap sekolah mereka)
  1. Mengekspresikan perasaan

Berbagai cara dapat ditempuh, antara lain :

  • Catastrophic Fak Taasis, yaitu dengan jalan menguji fikiran yang didasari suatu perasaan individu.
  • Crips Box, yaitu suatu kotak disediakan di sekolah dimana setiap siswa dapat menyampaikan pengalamannya
  • Tension Relaxation, yaitu santai, pejamkan mata, bayangkan ditempat yang disenangi tarik nafas dengan teratur.
  • Role Playing, yaitu pemahaman diri dan temannya.

BAB III

PENUTUP

  1. A.          Kesimpulan

Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru dengan baik, sedikit banyaknya akan mempengaruhi hasil belajar siswa akan tetapi tinggi rendahnya hasil belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain diluar dari pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas dengan segala kelebihannya yaitu dapat menumbuhkan motivasi intrinsik yang dapat memberikan dorongan terhadap minat siswa untuk mempelajari konsep yang diberikan melalui berbagai pengalaman, kejadian, fakta dan fenomena yang dialaminya sendiri, sehingga dapat memberikan suatu hasil yang diharapkan dan yang lebih penting adalah siswa memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Agar pengelolaan kelas dapat berjalan sesuai dengan tujuannya maka dibutuhkan suatu kemampuan guru sebagai prasyarat yang diantaranya adalah kemampuan untuk menata lingkungan belajar yang kondusif. Penataan lingkungan belajar yang kondusif bagi kebermaknaan kegiatan belajar peserta didik adalah hal penting. Dengan adanya pengelolaan kelas dalam hal ini penataan lingkungan belajar diharapkan dapat memberikan stimulus terhadap peserta didik sehingga peserta didik tersebut terpengaruh atau terkondisikan oleh lingkungan agar hasil belajar yang dicapai oleh siswa menjadi lebih baik.

 

  1. B.     Saran

 

Berdasarkan kesimpulan di atas, selanjutnya diajukan beberapa saran yang berguna yang dapat dijadikan pertimbangan dalam meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu:

  1. Para guru di sekolah diharapkan dapat merancang dan melaksanakan suatu kegiatan belajar yang dapat menciptakan suasana kondusif, yang dapat meningkatkan minat belajar siswa khususnya dalam mata pelajaran biologi. Suasana kondusif dapat diaplikasikan melalui penataan ruangan yang mencerminkan kesejukan, ventilasi yang baik sehingga sirkulasi udara berjalan dengan baik, penataan atau kreativitas siswa dengan demikian siswa merasa memiliki atas segala perlengkapan ataupun hiasan kelas.
  2. Diharapkan guru di sekolah memaksimalkan inventarisasi alat peraga yang dimiliki, hal ini ditujukan untuk meningkatkan daya tangkap siswa terhadap suatu materi pembelajaran yang disampaikan. Melalui penggunaan alat peraga atau prototype yang lebih mendekatkan keadaan obyek yang dibicarakan diharapkan siswa dapat lebih memahami atas materi yang sedang didiskusikan.

EVALUASI

  1. 1.            Sebutkan 4 tujuan pengelolaan kelas ?
    1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
    2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
    3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
    4. Membina dan membimbing sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.
    5. 2.      Gaya kepemimpinan apa yang harus dimiliki guru sebagai solusi untuk keberhasilan pengelolaan kelas yang efektif? Jelaskan!
  • Dalam hal ini yaitu gaya kepemimpinan situasional dimana guru mampu menjadi pemimpin yang fleksibel terhadap berbagai kondisi dan masalah yang terjadi di dalam kelas.  Kesiapan/kondisi kemampuan siswa yang tidak sama satu dengan yang lainnya merupakan faktor nyata yang ada didalam kelas dan tidak bisa dihilangkan.  Dengan gaya kepemimpinan ini guru akan selalu mempelajari kondisi siswa dikelas tempat guru tersebut mengajar, dan kemudian menentukan apa yang harus dilakukan oleh guru sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan tujuan pengajaran dapat tercapai.
  1. 3.     Bagaimana cara mengatasi masalah pengelolaan kelas?
  • Dalam mengatasi masalah-masalah pengelolaan kelas guru dapat menerapkan berbagai pendekatan. Pendekatan pertama ialah dengan menerapkan sejumlah “larangan dan anjuran” misalnya:
  1. Jangan menegur siswa di hadapan kawan-kawannya.
  2. Dalam memberikan peringatan kepada siswa janganlah mempergunakan nada suara yang tinggi.
  3. Bersikaplah tegas dan adil terhadap semua siswa
  4. Jangan pilih kasih
  5. Sebelum menghukum siswa, buktikanlah terlebih dahulu bahwa siswa itu bersalah
About these ads