1. A.    Pengertian Micro Teaching

Pengajaran mikro (micro-teaching) merupakan salah satu bentuk model praktek kependidikan atau pelatihan mengajar. Dalam konteks yang sebenarnya, mengajar mengandung banyak tindakan, baik mencakup teknis penyampaian materi, penggunaan metode, penggunaan media, membimbing belajar, memberi motivasi, mengelola kelas, memberikan penilaian dan seterusnya. Dengan kata lain, bahwa perbuatan mengajar itu sangatlah kompleks. Oleh karena itu, dalam rangka penguasaan keterampilan dasar mengajar, calon guru atau dosen perlu berlatih secara parsial, artinya tiap-tiap komponen keterampilan dasar mengajar itu perlu dikuasai secara terpisah-pisah (isolated).

Berlatih untuk menguasai keterampilan dasar mengajar seperti itulah yang dinamakan micro-teaching (pengajaran mikro). Pengajaran mikro (micro-teaching) merupakan suatu situasi pengajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan jumlah siswa yang terbatas, yaitu selama 5-20 menit dengan jumlah siswa sebanyak 3-10 orang. Hal tersebut diungkap oleh Cooper dan Allen, 1971.

Bentuk pengajaran yang sederhana, dimana calon guru atau dosen berada dalam suatu lingkungan kelas yang terbatas dan terkontrol. Hanya mengajarkan satu konsep dengan menggunakan satu atau dua keterampilan dasar mengajar. Konsep pengajaran mikro (micro-teaching) dilandasi oleh pokok-pokok pikiran sebagai berikut :

  1. Pengajaran yang nyata (dilaksanakan dalam bentuk yang sebenarnya) tetapi berkonsep mini.
  2. Latihan terpusat pada keterampilan dasar mengajar, mempergunakan informasi dan pengetahuan tentang tingkat belajar siswa sebagai umpan balik terhadap kemampuan calon guru/dosen.
  3. Pengajaran dilaksanakan bagi para siswa dengan latar belakang yang berbeda-beda dan berdasarkan pada kemampuan intelektual kelompok usia tertentu.
  4. Pengontrolan secara ketat terhadap lingkungan latihan yang diselenggarakan dalam laboratorium micro – teaching.
  5. Pengadaan low-threat-situation untuk memudahkan calon guru/dosen mempelajari keterampilan mengajar.
  6. Penyediaan low-risk-situation yang memungkinkan siswa berpartisipasi aktif dalam pengajaran,
  7. Penyediaan kesempatan latihan ulang dan pengaturan distribusi latihan dalam jangka waktu tertentu.

Terdapat beberapa definisi tentang pengajaran mikro (micro teaching) yang dapat dikemukakan, diantaranya adalah :

  1. Cooper dan Allen (1971), mendefinisikan “pengajaran mikro (micro-teaching) adalah suatu situasi pengajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan jumlah siswa yang terbatas, yaitu selama 5-20 menit dengan jumlah siswa sebanyak 3-10 orang”.
  2. Mc. Laughlin dan moulton (1975) mendefinisikan “micro teaching is a performance training method designed to isolated the component part of teaching process, so that the trainee can master each component one by one in a simplified teaching situation”.
  3. Waskito (1977) mendefinisikan “micro teaching  adalah suatu metode belajar mengajar atas dasar performance yang tekniknya dengan cara mengisolasikan komponen – komponen proses belajar mengajar sehingga calon guru dapat menguasai setiap komponen satu per satu dalam situasi yang disedrhanakan atau dikecilkan”

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa micro-teaching atau pengajaran mikro adalah, salah satu model pelatihan praktik mengajar dalam lingkup terbatas (mikro) untuk mengembangkan keterampilan dasar mengajar (base teaching skill) yang dilaksanakan secara terisolasi dan dalam situasi yang disederhanakan atau dikecilkan.

Pertimbangan yang  mendasari penggunaan program  pengajaran mikro  (micro teaching) adalah :

  1. Untuk  mengatasi kekurangan waktu  yang  diperlukan dalam  latihan mengajar secara tradisional.
  2. Keterampilan mengajar  yang  kompleks  dapat  diperinci menjadi keterampilan –  keterampilan mengajar  yang  khusus  dan dapat Dilatih secara berurutan.
  3. Pengajaran mikro dimaksudkan untuk  memperluas  kesempatan  latihan mengajar  mengingat  banyaknya  calon guru/dosen yang Membutuhkannya.
 
  1. B.     Karakteristik Micro Teaching

Pengajaran mikro (micro-teaching) merupakan real teaching, tetapi dalam skala mikro. Karakteristik yang khas dalam pengajaran mikro (micro-teaching) adalah komponen – komponen dalam pengajaran yang di-mikrokan atau di-sederhana-kan. Dalam pengajaran sesungguhnya (real teaching) lingkup mpembelajaran biasa tidak dibatasi, tetapi di micro-teaching terbatas pada satu kompetensi dasar atau satu hasil belajar dan satu materi pokok bahasan tertentu. Demikian pula alokasi waktunya juga terbatas antara 10-15 menit, jumlah siswa juga dikecilkan hingga berkisar 10-15 siswa, serta keterampilan dasar yang dilatihkan juga terbatas (terisolasi).

Dengan demikian, ciri khas micro-teaching adalah : “real-teaching yang di-mikro-kan meliputi jumlah siswa, alokasi waktu, fokus keterampilan, kompetensi dasar, hasil belajar dan materi pokok pembelajaran yang terbatas”.

Pelaksanaan pengajaran mikro (micro-teaching) pada prinsipnya merupakan realisasi pola-pola pengajaran yang sesungguhnya (real teaching) yang didesain dalam bentuk mikro. Setiap calon guru atau dosen membuat persiapan mengajar yang kemudian dilaksanakan dalam proses pembelajaran bersama siswa atau teman sejawat (peer teaching) dengan seting  kondisi dan konteks kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya. Berikut ini disajikan daftar komponen mengajar yang dimikrokan dibandingkan dengan pengajaran yang normal (real teaching) :

Perbandingan Micro Teaching dengan Real Teaching

Pengajaran

 

No Komponen Real Micro
1

2

3

4

5

6

Siswa / audience

Kompetensi dasar

Indikator hasil belajar

Materi

Waktu

Keterampilan mengajar

30 – 40 orang

2 – 4 kd

1-9 ihb

Luas

30 – 50 menit

Terintegrasi

10 – 15 orang

1 kd

1 – 3 ihb

Terbatas

10 – 15 menit

Terisolasi

 

 

Penyederhanaan  komponen pengajaran sebagai karakteristik  pengajaran mikro (micro-teaching)  didasarkan pada  asumsi-asumsi sebagai  berikut ini :

  1. Seluruh  komponen keterampilan dasar  mengajar  akan dapat dikuasai secara  mudah apabila  terlebih dahulu  menguasai komponen keterampilan dasar  mengajar  tersebut  secara  terpisah (terisolasi) satu demi satu,
  2. Penyederhanaan  situasi dan kondisi latihan,  memungkinkan perhatian praktikan terarah pada keterampilan yang dilatihkan,
  3. Penyederhanaan  situasi dan kondisi  dengan            bantuan vtr  memudahkan observasi dan bermanfaat  untuk umpan balik  (feed back).

Setelah guru/dosen pemula  dianggap  menguasai materi dan  system  penyampaiannya,  tiba  saatnya  untuk  berlatih menguasai keterampilan dasar  mengajar,  yaitu keterampilan yang  bersifat  generik  yang  harus  dikuasai oleh semua calon guru atau dosen.

Komponen keterampilan          dasar  mengajar  yang  dilatihkan dalam  pengajaran mikro (micro-teaching)  menurut  hasil penelitian tumey  (1973) terdapat  8 (delapan) keterampilan yang sangat berperan dalam kegiatan belajar mengajar. Kedelapan keterampilan tersebut antara lain :

  1. Keterampilan dasar membuka dan menutup pelajaran (set induction And closure)
  2. Keterampilan dasar menjelaskan (explaining skills)
  3. Keterampilan dasar mengadakan variasi (variation skills)
  4. Keterampilan dasar memberikan penguatan (reinforcement skills)
  5. Keterampilan dasar bertanya (questioning skills)
  6. Keterampilan dasar mengelola kelas
  7. Keterampilan dasar mengajar perorangan/kelompok kecil
  8. Keterampilan dasar membimbing diskusi kelompok kecil

Perlu ditekankan bahwa hanya  untuk  tujuan latihan,  keterampilan yang kompleks tersebut dapat dipilah-pilah menjadi 8 (delapan) komponen keterampilan dasar mengajar seperti di atas, supaya masing-masing  dapat  dilatihkan secara terpisah (ter-isolasi). Namun ketika dosen menggunakan/menerapkan keterampilan tersebut di dalam kelas. Harus mampu menampilkan secara utuh dan ter-integrasi.

Mengajar  adalah perbuatan yang kompleks yang merupakan peng-Integrasi-an secara utuh dari berbagai komponen kemampuan. Komponen kemampuan tersebut dapat berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai. Sebagian kemampuan tersebut telah dibentuk secara bertahap melalui penyampaian teori-teori tentang prinsip-prinsip belajar dan pembelajaran,  strategi mengajar, rancangan instruksional, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan sebagaianya.

  1. C.    Tujuan Umum dan Manfaat Micro Teaching                                  

            Tujuan  umum  pengajaran mikro (micro teaching) adalah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa (calon guru atau dosen untuk berlatih mempraktikan beberapa keterampilan dasar mengajar di depan teman-temannya dalam suasana yang Constructive, supportive, dan  bersahabat. Sehingga mendukung kesiapan mental, keterampilan dan kemampuan performance yang  ter-integrasi      untuk   beka praktik mengajar Sesungguhnya di sekolah/institusi pendidikan.

Adapun tujuan  khusus  pengajaran mikro (micro-teaching) antara  lain Sebagai berikut :

  1. Mahasiswa terampil untuk membuat persiapan mengajar,
  2. Membentuk sikap profesional sebagai calon guru/dosen,
  3. Berlatih menjadi guru yang bertanggung jawab dan berpegang kepada Etika keguruan,
  4. Dapat menjelaskan pengertian micro teaching,
  5. Dapat  berbicara  di depan kelas  secara  runtut  dan runut  sehingga Mudah dipahami oleh audience atau peserta didik,
  6. Terampil membuka dan menutup pelajaran,
  7. Dapat bertanya secara benar,
  8. Dapat memotivasi belajar siswa/peserta didik,
  9. Dapat membuat variasi dalam mengajar,
  10. Dapat  menggunakan alat-alat  /  media  pembelajaran dengan benar Dan tepat,
  11. Dapat mengamati keterampilan keguruan secara obyektif, sistematis, kritis dan praktis,
  12. Dapat memerankan sebagai guru/dosen , supervisor, peserta didik, Maupun sebagai observer dengan baik,
  13. Dapat  menerapkan teori belajar  dan pembelajaran dalam  suasana Didaktis,  paedagogis,  metodik  dan andragogis  secara  tepat  dan Menarik,
  14. Berlatih membangun rasa percaya diri,

Pengajaran mikro (micro teaching) dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan model praktik pengajaran tradisional. Melalui pengajaran mikro (micro  teaching),  keterampilan mengajar  yang  potensial dapat diorganisasikan dalam  satu  penampilan yang  utuh.  Seseorang yang pratik akan lebih siap dan terampil untuk mengantisipasi perilaku mengajar yang sebenarnya di kelas. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa  pengajaran mikro (micro Teaching) memberikan pengaruh positif dalam  melatih keterampilan mengajar  di kelas. Brown dan ametrong (1975), mencatat hasil riset tentang manfaat pengajaran mikro (micro teaching) sebagai berikut :

  1. Korelasi antara  pengajaran mikro (micro  teaching) dan praktik  keguruan sangat tinggi. Artinya, calon guru atau dosen yang berpenampilan baik dalam Pengajaran mikro (micro  teaching), akan baik pula dalam praktik mengajar di kelas.
  2. Praktikan yang lebih dulu menempuh program pengajaran mikro (micro Teaching) ternyata lebih baik atau lebih terampil dibandingkan praktikan yang tidak mengikuti pengajaran mikro (micro teaching).
  3. Praktikan yang menempuh pengajaran mikro (micro  teaching) menunjukkan prestasi mengajar yang lebih tinggi.
    1. Bagi praktikan  yang  telah memiliki kemampuan tinggi dalam pengajaran, pengajaran mikro (micro teaching) kurang bermanfaat.
    2. Setelah mengikuti pengajaran mikro (micro teaching),  praktikan dapat menciptakan interaksi dengan siswa secara lebih baik.
    3. Penyajian model  rekaman mengajar  lebih baik  daripada  model lisan sehingga lebih signifikan dengan keterampilan mengajar.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan bahwa praktikan yang memiliki prestasi tinggi dalam pembelajaran pengajaran Mikro (micro teaching) akan berprestasi pula dalam  praktik  mengajar. Oleh karena itu, perbedaan prestasi pengajaran  mikro (micro  teaching). Diantara  praktikan,  akan diikuti pula  oleh perbedaan prestasi praktik mengajarnya.

  1. D.    Langkah-langkah latihan keterampilan dasar mengajar

Pada  dasarnya  langkah pelaksanaan Pengajaran Mikro (Micro  Teaching) dapat digambarkan sebagai berikut :

 

Diagram Pelaksanaan Pengajaran Mikro (Micro Teaching)

Dalam  pelaksanaan Pengajaran  Mikro (Micro  Teaching),  tahap  pertama dan kedua  mahasiswa  diarahkan untuk  memahami wawasan dan landasan teori keterampilan dasar  mengajar  yang  harus  dikuasai serta  mengamati dan  mencontoh penerapan model-model keterampilan mengajar sesuai bidang studinya. Tahap  ketiga  adalah penyusunan perencanaan  program  pembelajaran dengan mengacu pada format yang telah ada dan dipelajari. Tahap keempat adalah setiap calon guru atau dosen dalam kelompok masing-masing akan mempraktikkan satu sesi pengajaran dengan  kontrak keterampilan dasar mengajar yang berbeda-beda secara terisolasi. Setelah presentasi calon guru atau dosen saling memberikan komentar (Debriefing) terhadap  apa  yang  telah  berjalan dan pada  tahap  kelima anggota lain memberikan Feed Back yang konstruktif terhadap presentasi yang telah dilakukan.

Hasil dari         Feed  Back  penampilan yang  pertama  ini digunakan masukan dan perbaikan untuk  menyusun persiapan dan praktik  ulang  dengan kontrak  menerapkan keterampilan dasar  mengajar  secara  ter-integrasi pada tahap enam dan tujuh. dalam  rangka  observasi latihan praktik  mengajar,  digunakan alat  bantu VTR (Video  Tape  Recorder).  Tujuan penggunaan alat  tersebut  adalah untuk merekam penampilan guru/dosen ketika sedang berlatih mengajar.  Tiap-tiap penampilan dalam pelatihan mengajar dianalisis bersama oleh Observer  dan Supervisor. Dengan menggunakan       alat bantu VTR, penampilan mengajar dapat diputar kembali, sehingga pihak yang berlatih dapat  mengamati penampilannya.  Dengan cara  ini pula,  pihak  yang berlatih          dapat  menganalisis  penampilannya  bersama  observer  dan fasilitator.

EVALUASI

  1. Jelaskan pengertian micro teaching menurut kalian! (skor: 3)

Kata kuncinya: keterampilan, pengajaran, dalam skala mikro.

  1. Sebutkan tujuan micro teaching! Minimal 3 (skor: 3)

Jawab:

  1. Mahasiswa terampil untuk membuat persiapan mengajar,
  2. Membentuk sikap profesional sebagai calon guru/dosen,
  3. Berlatih menjadi guru yang bertanggung jawab dan berpegang kepada Etika keguruan,
  4. Dapat menjelaskan pengertian micro teaching,
  5. Dapat  berbicara  di depan kelas  secara  runtut  dan runut  sehingga Mudah dipahami oleh audience atau peserta didik,
  6. Terampil membuka dan menutup pelajaran,
  7. Dapat bertanya secara benar,
  8. Dapat memotivasi belajar siswa/peserta didik,
  9. Dapat membuat variasi dalam mengajar,
  10. Dapat  menggunakan alat-alat  /  media  pembelajaran dengan benar Dan tepat,
  11. Dapat mengamati keterampilan keguruan secara obyektif, sistematis, kritis dan praktis,
  12. Dapat memerankan sebagai guru/dosen , supervisor, peserta didik, Maupun sebagai observer dengan baik,
  13. Dapat  menerapkan teori belajar  dan pembelajaran dalam  suasana Didaktis,  paedagogis,  metodik  dan andragogis  secara  tepat  dan Menarik,
  14. Berlatih membangun rasa percaya diri
  1. Apa sajakah manfaat dari pelaksanaan micro teaching? Sebutkan minimal 3 (skor: 3)

Jawab:

  1. Korelasi antara  pengajaran mikro (micro  teaching) dan praktik  keguruan sangat tinggi. Artinya, calon guru atau dosen yang berpenampilan baik dalam Pengajaran mikro (micro  teaching), akan baik pula dalam praktik mengajar di kelas.
  2. Praktikan yang lebih dulu menempuh program pengajaran mikro (micro Teaching) ternyata lebih baik atau lebih terampil dibandingkan praktikan yang tidak mengikuti pengajaran mikro (micro teaching).
  3. Praktikan yang menempuh pengajaran mikro (micro  teaching) menunjukkan prestasi mengajar yang lebih tinggi.
  4. Bagi praktikan  yang  telah memiliki kemampuan tinggi dalam pengajaran, pengajaran mikro (micro teaching) kurang bermanfaat.
  5. Setelah mengikuti pengajaran mikro (micro teaching),  praktikan dapat menciptakan interaksi dengan siswa secara lebih baik.
  6. Penyajian model  rekaman mengajar  lebih baik  daripada  model lisan sehingga lebih signifikan dengan keterampilan mengajar.
  1. Sebutkan langkah-langkah latihan dasar keterampilan mengajar! (skor: 5)

Jawab:

  1. Pengenalan Konsep Keterampilan Micro Teaching
  2. Pengajaran Model Keterampilan Dasar Mengajar
  3. Perencanaan dan Persiapan  Latihan
  4. Praktek Keterampilan Dasar  Mengajar
  5. Diskusi Balikan (Feed Back) dari Observer atau Dosen Pamong
  6. Perencanaan – Persiapan Latihan  Ulang
  7. Praktek Ulang
  8. Diskusi Balikan (Feed Back) dari Observer atau Dosen Pamong
  1. Dalam pelaksanaan micro teaching, berapakah elokasi waktu yang tepat untuk menyampaikan materi 1 kd? (skore 1)

Jawab: 10-15 menit

About these ads