MERUMUSKAN TUJUAN PEMBELAJARAN

            Seiring dengan pergeseran teori dan cara pandang dalam pembelajaran, saat ini telah terjadi pergeseran dalam perumusan tujuan pembelajaran. W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) mengemukakan pada masa lampau guru diharuskan menuliskan tujuan pembelajarannya dalam bentuk bahan yang akan dibahas dalam pelajaran, dengan menguraikan topik-topik atau konsep-konsep yang akan dibahas selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelajaran pada masa lalu ini tampak lebih mengutamakan pada pentingnya penguasaan bahan bagi siswa dan pada umumnya yang dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered). Namun seiring dengan pergeseran teori dan cara pandang dalam pembelajaran, tujuan pembelajaran yang semula lebih memusatkan pada penguasaan bahan, selanjutnya bergeser menjadi penguasaan kemampuan siswa atau biasa dikenal dengan sebutan penguasaan kompetensi atau performansi.

Dalam praktik pendidikan di Indonesia, pergeseran tujuan pembelajaran ini terasa lebih mengemuka sejalan dengan munculnya gagasan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kendati demikian, di lapangan kegiatan merumuskan tujuan pembelajaran seringkali dikacaukan dengan perumusan indikator pencapaian kompetensi. Sri Wardani (2008) bahwa tujuan pembelajaran merupakan target pencapaian kolektif, karena rumusan tujuan pembelajaran dapat dipengaruhi oleh desain kegiatan dan strategi pembelajaran yang disusun guru untuk siswanya. Sementara rumusan indikator pencapaian kompetensi tidak terpengaruh oleh desain ataupun strategi kegiatan pembelajaran yang disusun guru, karena rumusannya lebih bergantung kepada karakteristik Kompetensi Dasar yang akan dicapai siswa. Di samping terdapat perbedaan, keduanya memiliki titik persamaan yaitu memiliki fungsi sebagai acuan arah proses dan hasil pembelajaran.

  1. A.    Pengertian Tujuan Pembelajaran

      Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dan dikembangkan dan diapresiasi. Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Guru sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa, dan dia harus mampu menulis dan memilih tujuan-tujuan pendidikan yang bermakna, dan dapat terukur.

      Tujuan (goals) adalah rumusan yang luas mengenai hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Di dalamnya terkandung tujuan yang menjadi target pembelajaran dan menyediakan pilar untuk menyediakan pengalaman-pengalaman belajar. Contoh rumusan tujuan umum (goals) :

  • Siswa hendak mengaplikasikan laporan keuangan.
  • Siswa hendak mengidentifikasikan ciri-ciri pasar monopoli.

     

      Kalau kita perhatikan, tujuan-tujuan tersebut memang berguna untuk merancang keseluruhan tujuan program pembelajaran, tetapi kurang spesifik dalam upaya pelaksanaan urutan pembelajaran, karena tujuan yang dibutuhkan adalah yang jelas dan dapat diukur.

      Untuk merumuskan tujuan pembelajaran kita harus mengambil suatu rumusan tujuan dan menentukan tingkah laku siswa yang spesifik yang mengacu ke tujuan tersebut. Tingkah laku yang spesifik harus dapat diamati oleh guru yang ditunjukkan oleh siswa, misalnya menghitung laporan keuangan secara periodik, menjelaskan hukum permintaan.

 

  1. B.     Manfaat dari Tujuan Pembelajaran

      Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu:

(1)    memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada  siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara  lebih mandiri;

(2)    memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar;

(3)    membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran;

(4)    memudahkan guru mengadakan penilaian.

Dalam Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.

Sementara itu, Fitriana Elitawati (2002) menginformasikan hasil studi tentang manfaat tujuan dalam proses belajar mengajar bahwa perlakuan yang berupa pemberian informasi secara jelas mengenai tujuan pembelajaran khusus kepada siswa pada awal kegiatan proses belajar-mengajar, ternyata dapat meningkatkan efektifitas belajar siswa.

Memperhatikan penjelasan di atas, tampak bahwa tujuan pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam pembelajaran, yang di dalamnya dapat menentukan mutu dan tingkat efektivitas pembelajaran.

  1. C.    Kriteria Tujuan Pembelajaran

      Terlepas dari kekacauan penafsiran yang terjadi di lapangan, yang pasti bahwa untuk merumuskan tujuan pembelajaran tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa kaidah atau kriteria tertentu. Suatu tujuan pembelajaran hendaknya  memenuhi kriteria sebagai berikut :

  • Tujuan itu menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar, misalnya: dalam situasi  bermain   peran dalam kegiatan pasar modal.
  • Tujuan mendefinisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan dapat diamati.
  • Tujuan menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki, misalnya pada pembuatan kurva Philips, siswa dapat menjelaskan tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran.

     

      W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) menegaskan bahwa seorang guru profesional harus merumuskan tujuan pembelajarannya dalam bentuk perilaku siswa yang dapat diukur yaitu menunjukkan apa yang dapat dilakukan oleh siswa tersebut sesudah mengikuti pelajaran. Selanjutnya, dia menyarankan dua kriteria yang harus dipenuhi dalam memilih tujuan pembelajaran, yaitu: (1) preferensi nilai guru yaitu cara pandang dan keyakinan guru mengenai apa yang penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa serta bagaimana cara membelajarkannya; dan (2) analisis taksonomi perilaku; dengan menganalisis taksonomi perilaku ini, guru akan dapat menentukan dan menitikberatkan bentuk dan jenis pembelajaran yang akan dikembangkan, apakah seorang guru hendak menitikberatkan pada pembelajaran kognitif, afektif, ataukah psikomotor.

 

  1. D.    Tujuan dan Proses Pendidikan

      Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberi arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

Sebagai suatu komponen pendidikan, tujuan pendidikan menduduki posisi penting diantara komponen-komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan bahwa seluruh komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan tersebut. Dengan demikian maka kegiatan-kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan tersebut dianggap menyimpang, tidak fungsional, bahkan salah, sehingga harus dicegah terjadinya. Di sini terlihat bahwa tujuan pendidikan itu bersifat normatif, yaitu mengandung unsur norma yang bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik.

Sehubungan dengan fungsi tujuan yang sangat penting itu, maka suatu keharusan bagi pendidik untuk memahaminya. Kekurangpahaman pendidik terhadap tujuan pendidikan dapat mengakibatkan kesalahpahaman di dalam melaksanakan pendidikan. Gejala demikian oleh Langeveld disebut salah teoritis (Umar Tirtarahardja dan La Sula, 37 : 2000).

Tujuan merupakan dasar untuk mengukur hasil pembelajaran, dan juga menjadi landasan untuk menentukan isi pelajaran dan metode mengajar. Berdasarkan isi dan metode itu selanjutnya ditentukan kondisi-kondisi kegiatan pembelajaran yang terkait dengan tujuan tingkah laku tersebut, yang disebut sebagai kondisi internal. Kegiatan-kegiatan yang tidak terkait dengan tujuan tingkah laku disebut kondisi luar. Berdasarkan pemikiran ini, maka dianggap perlu menentukan kondisi-kondisi eksternal yang berguna untuk meyakinkan bahwa perilaku yang diperoleh benar-benar disebabkan oleh kegiatan belajar, bukan karena sebab-sebab lainnya.

Tujuan merupakan tolok ukur terhadap keberhasilan pembelajaran. Karena itu perlu disusun suatu deskripsi tentang cara mengukur tingkah laku. Deskripsi ltu disusun dalam bentuk deskripsi pengukuran tingkah laku yang dapat diukur, atau tingkah laku yang tidak dapat diamati secara langsung. Keterampilan melemparkan bola adalah perilaku yang dapat diamati secara langsung, sedangkan sikap terhadap suku lain adalah perilaku yang tak dapat diamati secara langsung.

Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling tergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya prasarana dan sarana serta biaya yang cukup, juga ditunjang dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal.

Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekurangan, akan mengakibatkan hasil yang tidak optimal. Selain itu proses pendidikan harus mampu membangun peradaban manusia yang berkarakter, Dengan demikian diharapkan dapat membentuk manusia berkarakter pemenang, inovatif, kreatif, berwawasan, dan berkekuatan untuk bersaing positif mencapai visinya serta dapat mencetak pemimpin yang bisa mengantar masa depan peradaban Indonesia yang unggul.

 

  1. E.     18 Indikator Pendidikan Karakter Bangsa

      Dengan seringnya tawuran antar pelajar dan menurunnya karakter berkebangsaan pada generasi maka dicetuskan pendidikan karakter bangsa sebagai wujud pendidikan karakter kebangsaan kepada peserta didik. Pendidikan karakter bangsa Indonesia. Dalam pelaksanaannya pendidikan karakter bangsa indonesia tidak berdiri sendiri tetapi berintegrasi dengan pelajan-pelajaran yang ada dengan memasukkan nilai-nilai karakter dan budaya bangsa Indonesia.

      Pendidikan karakter bangsa bisa dilakukan dengan pembiasaan nilai moral luhur kepada peserta didik dan membiasakan mereka dengan kebiasaan (habit) yang sesuai dengan karakter kebangsaan. Berikut 18 Indikator Pendidikan Karakter bangsa sebagai bahan untuk menerapkan pendidikan karakter bangsa:

  1. Religius: Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

Indikator Sekolah

(1)   Merayakan hari-hari besar keagamaan.

(2)   Memiliki fasilitas yang dapat digunakan untuk beribadah.

(3)   Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.

 

Indikator Kelas

(1)   Berdoa sebelum dan sesudah pelajaran.

(2)   Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.

  1.  Jujur: perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

Indikator Sekolah

(1)   Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang.

(2)   Tranparansi laporan keuangan dan penilaian sekolah secara berkala.

(3)   Menyediakan kantin kejujuran.

(4)   Menyediakan kotak saran dan pengaduan.

(5)   Larangan membawa fasilitas komunikasi pada saat ulangan atau ujian.

 

Indikator Kelas

(1)   Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang.

(2)   Tempat pengumuman barang temuan atau hilang.

(3)   Tranparansi laporan keuangan dan penilaian kelas secara berkala.

(4)   Larangan menyontek.

  1. Toleransi: sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya

 

Indikator Sekolah

(1)   Menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga sekolah tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan khas.

(2)   Memberikan perlakuan yang sama terhadap stakeholder tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan  status ekonomi.

 

Indikator Kelas

(1)   Memberikan pelayanan yang sama terhadap seluruh warga kelas tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan status ekonomi.

(2)   Memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus.

(3)   Bekerja dalam kelompok yang berbeda.

  1. Disiplin: tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

 

Indikator Sekolah

(1)   Memiliki catatan kehadiran.

(2)   Memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang disiplin.

(3)   Memiliki tata tertib sekolah.

(4)   Membiasakan warga sekolah untuk berdisiplin.

(5)   Menegakkan aturan dengan memberikan sanksi secara adil bagi pelanggar tata tertib sekolah.

(6)   Menyediakan peralatan praktik sesuai program studi keahlian (SMK).

 

Indikator Kelas

(1)   Membiasakan hadir tepat waktu.

(2)   Membiasakan mematuhi aturan.

(3)   Menggunakan pakaian praktik sesuai dengan program studi keahliannya (SMK).

(4)   Penyimpanan dan pengeluaran alat dan bahan (sesuai program studi keahlian) (SMK).

  1. Kerja Keras: perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

 

 

Indikator Sekolah

(1)   Menciptakan suasana kompetisi yang sehat.

(2)   Menciptakan suasana sekolah yang menantang dan memacu untuk bekerja keras.

(3)   Memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang kerja.

 

Indikator Kelas

(1)   Menciptakan suasana kompetisi yang sehat.

(2)   Menciptakan kondisi etos kerja, pantang menyerah, dan daya tahan belajar.

(3)   Mencipatakan suasana belajar yang memacu daya tahan kerja.

(4)   Memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang giat bekerja dan belajar.

  1.  Kreatif: berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

 

Indikator Sekolah

(1)   Menciptakan situasi yang menumbuhkan daya berpikir dan bertindak kreatif.

 

Indikator Kelas

(1)   Menciptakan situasi belajar yang bisa menumbuhkan daya pikir dan bertindak kreatif.

(2)   Pemberian tugas yang menantang munculnya karya-karya baru baik yang autentik maupun modifikasi.

  1. Mandiri: sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

 

Indikator Sekolah

(1)   Menciptakan situasi sekolah yang membangun kemandirian peserta didik.

 

Indikator Kelas

(1)   Menciptakan suasana kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja mandiri.

  1. Demokratis: cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

 

Indikator Sekolah

(1)   Melibatkan warga sekolah dalam setiap pengambilan keputusan.

(2)   Menciptakan suasana  sekolah yang menerima perbedaan.

(3)   Pemilihan kepengurusan OSIS secara terbuka.

 

Indikator Kelas

(1)   Mengambil keputusan kelas secara bersama melalui musyawarah dan mufakat.

(2)   Pemilihan kepengurusan kelas secara terbuka.

(3)   Seluruh produk kebijakan  melalui musyawarah dan mufakat.

(4)   Mengimplementasikan model-model pembelajaran yang dialogis dan interaktif.

  1. Rasa Ingin Tahu: sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.

 

Indikator Sekolah

(1)   Menyediakan media komunikasi atau informasi (media cetak atau media elektronik) untuk berekspresi bagi warga sekolah.

(2)   Memfasilitasi warga sekolah untuk bereksplorasi dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.

 

Indikator Sekolah

(1)   Menciptakan suasana kelas yang mengundang rasa ingin tahu.

(2)   Eksplorasi lingkungan secara terprogram.

(3)   Tersedia media komunikasi atau informasi (media cetak atau media elektronik).

 

  1. Semangat Kebangsaan; Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

 

Indikator Sekolah

(1)   Melakukan upacara rutin sekolah.

(2)   Melakukan upacara hari-hari besar nasional.

(3)   Menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan nasional.

(4)   Memiliki program melakukan kunjungan ke tempat bersejarah.

(5)   Mengikuti lomba pada hari besar nasional.

 

Indikator Kelas

(1)   Bekerja sama dengan teman sekelas yang berbeda suku, etnis, status sosial-ekonomi.

(2)   Mendiskusikan hari-hari besar nasional.

 

  1. Cinta Tanah Air: cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

 

Indikator Sekolah

(1)   Menggunakan produk buatan dalam negeri.

(2)   Menyediakan informasi (dari sumber cetak, elektronik) tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia.

(3)   Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

 

Indikator Kelas

(1)   Memajangkan: foto presiden dan wakil presiden, bendera negara, lambang negara, peta Indonesia, gambar kehidupan masyarakat Indonesia

(2)   Menggunakan produk buatan dalam negeri.

 

  1. Menghargai Prestasi: sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakui, dan menghormati keberhasilan orang lain.

 

Indikator Sekolah

(1)   Memberikan penghargaan atas hasil prestasi kepada warga sekolah.

(2)   Memajang tanda-tanda penghargaan prestasi.

 

Indikator Kelas

(1)   Memberikan penghargaan atas hasil karya peserta didik.

(2)   Memajang tanda-tanda penghargaan prestasi.

(3)   Menciptakan suasana pembelajaran untuk memotivasi peserta didik berprestasi.

 

  1. Bersahabat/Komunikatif: tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

 

Indikator Sekolah

(1)   Suasana sekolah yang memudahkan terjadinya interaksi antarwarga sekolah.

(2)   Berkomunikasi dengan bahasa yang santun.

(3)   Saling menghargai dan menjaga kehormatan.

(4)   Pergaulan dengan cinta kasih dan rela berkorban.

 

Indikator Kelas

(1)   Pengaturan kelas yang memudahkan terjadinya interaksi peserta didik.

(2)   Pembelajaran yang dialogis.

(3)   Guru mendengarkan keluhan-keluhan peserta didik.

(4)   Dalam berkomunikasi, guru tidak menjaga jarak dengan peserta didik.

 

  1. Cinta Damai: sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya

 

Indikator Sekolah

(1)   Menciptakan suasana sekolah dan bekerja yang nyaman, tenteram, dan harmonis.

(2)   Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan.

(3)   Membiasakan perilaku warga sekolah yang tidak bias gender.

(4)   Perilaku seluruh warga sekolah yang penuh kasih sayang.

 

Indikator Kelas

(1)   Menciptakan suasana kelas yang damai.

(2)   Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan.

(3)   Pembelajaran yang tidak bias gender.

(4)   Kekerabatan di kelas yang penuh kasih sayang.

 

  1. Gemar Membaca: kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

 

Indikator Sekolah

(1)   Program wajib baca.

(2)   Frekuensi kunjungan perpustakaan.

(3)   Menyediakan fasilitas dan suasana menyenangkan untuk membaca.

 

Indikator Kelas

(1)   Daftar buku atau tulisan yang dibaca peserta didik.

(2)   Frekuensi kunjungan perpustakaan.

(3)   Saling tukar bacaan.

(4)   Pembelajaran yang memotivasi anak menggunakan referensi.

 

  1. Peduli Lingkungan: sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

 

Indikator Sekolah

(1)       Pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah.

(2)       Tersedia tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan.

(3)       Menyediakan kamar mandi dan air bersih.

(4)       Pembiasaan hemat energi.

(5)       Membuat biopori di area sekolah.

(6)       Membangun saluran pembuangan air limbah dengan baik.

(7)       Melakukan pembiasaan memisahkan jenis sampah organik dan anorganik.

(8)       Penugasan pembuatan kompos dari sampah organik.

(9)       Penanganan limbah hasil praktik (SMK).

(10)   Menyediakan peralatan kebersihan.

(11)   Membuat tandon penyimpanan air.

(12)   Memprogramkan cinta bersih lingkungan.

 

Indikator Kelas

(1)   Memelihara lingkungan kelas.

(2)   Tersedia tempat pembuangan sampah di dalam kelas.

(3)   Pembiasaan hemat energi.

(4)   Memasang stiker perintah mematikan lampu dan menutup kran air pada setiap ruangan apabila selesai digunakan (SMK).

 

  1. Peduli Sosial: sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

 

Indikator Sekolah

(1)   Memfasilitasi kegiatan bersifat sosial.

(2)   Melakukan aksi sosial.

(3)   Menyediakan fasilitas untuk menyumbang.

 

Indikator Kelas

(1)   Berempati kepada sesama teman kelas.

(2)   Melakukan aksi sosial.

(3)   Membangun kerukunan warga kelas.

 

  1. Tanggung jawab: sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Indikator Sekolah

(1)   Membuat laporan setiap kegiatan yang dilakukan dalam bentuk lisan maupun tertulis.

(2)   Melakukan tugas tanpa disuruh.

(3)   Menunjukkan prakarsa untuk mengatasi masalah dalam lingkup terdekat.

(4)   Menghindarkan kecurangan dalam pelaksanaan tugas.

 

Indikator Kelas

(1)   Pelaksanaan tugas piket secara teratur.

(2)   Peran serta aktif dalam kegiatan sekolah.

(3)   Mengajukan usul pemecahan masalah.

  1. F.     Klasifikasi Tujuan Pendidikan

      Tujuan pendidikan dapat diklasifikasikan berdasarkan pendekatan tertentu. Pengklasifikasian ini perlu diadakan supaya dapat diketahui jenis dan jenjang suatu tujuan pendidikan, dan hal ini dapat membantu si perancang/pengembang program pendidikan. Klasifikasi tujuan pendidikan dilakukan berdasarkan pendekatan-pendekatan yaitu  sebagai berikut :

  1. Pendekatan Langsung

Klasifikasi tujuan pendidikan ini digunakan dalam rangka merancang kurikulum. Dengan pendekatan ini diklasifikasikan tujuan menjadi beberapa tujuan pendidikan, yakni :

  • Tujuan jangka panjang (long term), misalnya pengetahuan dan keterampilan yang  berdayaguna sepanjang kehidupan.
  • Tujuan antara (medium term), yang mencakup hal-hal yang diperoleh dari sekolah.
  • Tujuan pembelajaran (course), berkenaan dengan bidang studi yang akan diajarkan.
  • Tujuan unit, berkenaan dengan unit-unit yang akan diajarkan.
  • Tujuan pelajaran (lesson), berkenaan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.
  • Tujuan latihan, berkenaan dengan tingkah laku khusus yang akan dilatilikan.
  1. Pendekatan Jenis Perilaku

Klasifikasi ini berguna dalam penyusunan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran. Penjelasan lebih lanjut mengenai taksonomi ini disajikan pada uraian berikutnya. Klasifikasi ini dibuat berdasarkan taksonomi tujuan pendidikan, yang terdiri dari :

  • Tujuan-tujuan kognitif.
  • Tujuan-tujuan afektif.
  • Tujuan-tujuan psikomotorik.
  1. Pendekatan Sumber

Pendekatan ini bertitik tolak dari kebutuhan masyarakat, kebutuhan organisasi, atau kebutuhan individual. Kebutuhan-kebutuhan tersebut diklasifikasikan dari segi input (isi atau informasi), proses (kemampuan berpikir), produk (keterampilan atau perilaku khusus). Klasifikasi tujuan ini berguna dalam rangka memilih dan merumuskan tujuan-tujuan suatu bidang pengajaran/bidang studi.

Klasifikasi tujuan pendidikan dengan pendekatan sumber meliputi:

  • Tujuan-tujuan keterampilan kehidupan, yakni keterampilan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yang meliputi aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
  • Tujuan-tujuan metodologis, berkenaan dengan cara-cara berpikir dan bertindak terhadap informasi, dan cara-cara mengetahui disiplin mata ajaran.
  • Tujuan-tujuan isi, yang berkenaan dengan kemampuan siswa yang meliputi konsep,  generalisasi, prinsip, yang ada dalam daerah dan struktur mata ajaran tertentu.

 

  1. G.    Taksonomi Tujuan Pendidikan (Bloom)

      Taksonomi tujuan pendidikan merupakan suatu kategorisasi tujuan pendidikan, yang umumnya digunakan sebagai dasar untuk merumuskan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran. Taksonomi tujuan terdiri dari domain-domain kognitif, afektif dan psikomotor.

      Berbicara tentang taksonomi perilaku siswa sebagai tujuan belajar, saat ini para ahli pada umumnya sepakat untuk menggunakan pemikiran dari Bloom (Gulo, 2005) sebagai tujuan pembelajaran, yang dikenal dengan sebutan taksonomi Bloom (Bloom’s Taxonomy).

Menurut Bloom perilaku individu dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) ranah, yaitu:

  1. Ranah kognitif; ranah yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar, di dalamnya mencakup: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), penguraian (analysis), memadukan (synthesis), dan penilaian (evaluation);
  2. Ranah afektif; ranah yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya, di dalamnya mencakup: penerimaan (receiving/attending), sambutan (responding), penilaian (valuing), pengorganisasian (organization), dan karakterisasi (characterization); dan
  3. Ranah psikomotor; ranah yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Ranah ini terdiri dari : kesiapan (set), peniruan (imitation), membiasakan (habitual), menyesuaikan (adaptation) dan menciptakan (origination). Taksonomi ini merupakan kriteria yang dapat digunakan oleh guru untuk mengevaluasi mutu dan efektivitas pembelajarannya.

Dalam setiap aspek taksonomi terkandung kata kerja operasional yang menggambarkan bentuk perilaku yang hendak dicapai melalui suatu pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, dalam tabel berikut disajikan contoh kata kerja operasional da ri masing-masing ranah.

 

Tabel 1 : Kata Kerja Ranah Kognitif

Pengetahuan        Pemahaman Penerapan Analisis Sintesis Penilaian
Mengutip

Menyebutkan

Menjelaskan

Menggambar

Membilang

Mengidentifikasi

Mendaftar

Menunjukkan

Memberi label

Memberi indeks

Memasangkan

Menamai

Menandai

Membaca

Menyadari

Menghafal

Meniru

Mencatat

Mengulang

Mereproduksi

Meninjau

Memilih

Menyatakan

Mempelajari

Mentabulasi

Memberi kode

Menelusuri

Menulis

Memperkirakan

Menjelaskan

Mengkategorikan

Mencirikan

Merinci

Mengasosiasikan

Membandingkan

Menghitung

Mengkontraskan

Mengubah

Mempertahankan

Menguraikan

Menjalin

Membedakan

Mendiskusikan

Menggali

Mencontohkan

Menerangkan

Mengemukakan

Mempolakan

Memperluas

Menyimpulkan

Meramalkan

Merangkum

Menjabarkan

Menugaskan

Mengurutkan

Menentukan

Menerapkan

Menyesuaikan

Mengkalkulasi

Memodifikasi

Mengklasifikasi

Menghitung

Membangun

Membiasakan

Mencegah

Menentukan

Menggambarkan

Menggunakan

Menilai

Melatih

Menggali

Mengemukakan

Mengadaptasi

Menyelidiki

Mengoperasikan

Mempersoalkan

Mengkonsepkan

Melaksanakan

Meramalkan

Memproduksi

Memproses

Mengaitkan

Menyusun

Mensimulasikan

Memecahkan

Melakukan

Mentabulasi

Menganalisis

Mengaudit

Memecahkan

Menegaskan

Mendeteksi

Mendiagnosis

Menyeleksi

Merinci

Menominasikan

Mendiagramkan

Megkorelasikan

Merasionalkan

Menguji

Mencerahkan

Menjelajah

Membagankan

Menyimpulkan

Menemukan

Menelaah

Memaksimalkan

Memerintahkan

Mengedit

Mengaitkan

Memilih

Mengukur

Melatih

Mentransfer

Mengabstraksi

Mengatur

Menganimasi

Mengumpulkan

Mengkategorikan

Mengkode

Mengombinasikan

Menyusun

Mengarang

Membangun

Menanggulangi

Menghubungkan

Menciptakan

Mengkreasikan

Mengoreksi

Merancang

Merencanakan

Mendikte

Meningkatkan

Memperjelas

Memfasilitasi

Membentuk

Merumuskan

Menggeneralisasi

Menggabungkan

Memadukan

Membatas

Mereparasi

Menampilkan

Menyiapkan

Memproduksi

Merangkum

Merekonstruksi

Membandingkan

Menyimpulkan

Menilai

Mengarahkan

Mengkritik

Menimbang

Memutuskan

Memisahkan

Memprediksi

Memperjelas

Menugaskan

Menafsirkan

Mempertahankan

Memerinci

Mengukur

Merangkum

Membuktikan

Memvalidasi

Mengetes

Mendukung

Memilih

Memproyeksikan

Tabel 2 : Kata Kerja Ranah Afektif

Menerima Menanggapi Menilai Mengelola Menghayati
Memilih

Mempertanyakan

Mengikuti

Memberi

Menganut

Mematuhi

Meminati

Menjawab

Membantu

Mengajukan

Mengompromikan

Menyenangi

Menyambut

Mendukung

Menyetujui

Menampilkan

Melaporkan

Memilih

Mengatakan

Memilah

Menolak

Mengasumsikan

Meyakini

Melengkapi

Meyakinkan

Memperjelas

Memprakarsai

Mengimani

Mengundang

Menggabungkan

Mengusulkan

Menekankan

Menyumbang

Menganut

Mengubah

Menata

Mengklasifikasikan

Mengombinasikan

Mempertahankan

Membangun

Membentuk

pendapat

Memadukan

Mengelola

Menegosiasi

Merembuk

Mengubah perilaku

Berakhlak mulia

Mempengaruhi

Mendengarkan

Mengkualifikasi

Melayani

Menunjukkan

Membuktikan

Memecahkan

 

 

Tabel 3 : Kata Kerja Ranah Psikomotorik

Menirukan Memanipulasi Pengalamiahan Artikulasi
Mengaktifkan

Menyesuaikan

Menggabungkan

Melamar

Mengatur

Mengumpulkan

Menimbang

Memperkecil

Membangun

Mengubah

Membersihkan

Mengoreksi

Mendemonstrasikan

Merancang

Memilah

Melatih

Memperbaiki

Mengidentifikasikan

Mengisi

Menempatkan

Membuat

Memanipulasi

Mengalihkan

Menggantikan

Memutar

Mengirim

Memindahkan

Mendorong

Menarik

Memproduksi

Mencampur

Mengoperasikan

Mengemas

Membungkus

Mengalihkan

Mempertajam

Membentuk

Memadankan

Menggunakan

Memulai

Menyetir

Menjeniskan

Menempel

Menseketsa

Melonggarkan

 

Pemikiran Bloom di atas, tampak bahwa tujuan pembelajaran seyogyanya dapat mencakup seluruh ranah perilaku individu. Artinya, tidak hanya sebatas pencapaian perubahan perilaku kognitif atau intelektual semata, yang hingga ini tampaknya masih bisa ditemukan dalam praktik pembelajaran di Indonesia.

  1. H.    Rumus ABCD

      Menurut Oemar Hamalik (2005) bahwa komponen-komponen yang harus terkandung dalam tujuan pembelajaran, yaitu (1) perilaku terminal, (2) kondisi-kondisi dan (3) standar ukuran. Hal senada dikemukakan Mager (Hamzah B. Uno, 2008) bahwa tujuan pembelajaran sebaiknya mencakup tiga komponen utama, yaitu: (1) menyatakan apa yang seharusnya dapat dikerjakan siswa selama belajar dan kemampuan apa yang harus dikuasainya pada akhir pelajaran; (2) perlu dinyatakan kondisi dan hambatan yang ada pada saat mendemonstrasikan perilaku tersebut; dan (3) perlu ada petunjuk yang jelas tentang standar penampilan minimum yang dapat diterima.

      Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini dikemukakan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.  Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar.

      Sementara itu, Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran. Berkenaan dengan perumusan tujuan yang berorientasi performansi, Dick dan Carey (Hamzah Uno, 2008) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran terdiri atas: (1) tujuan harus menguraikan apa yang akan dapat dikerjakan atau diperbuat oleh anak didik; (2) menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat yang hadir pada waktu anak didik berbuat; dan (3) menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksudkan pada tujuan.

      Pada bagian lain, Hamzah B. Uno (2008) mengemukakan tentang teknis penyusunan tujuan pembelajaran dalam format ABCD.

  • A = Audience (petatar, siswa, mahasiswa, murid dan sasaran didik lainnya), adalah pelaku yang menjadi kelompok sasaran pembelajaran, yaitu siswa. Dalam TPK harus dijelaskan siapa siswa yang mengikuti pelajaran itu. Keterangan mengenai kelompok siswa yang akan manjadi kelompok sasaran pembelajaran diusahakan sespesifik mungkin. Misalnya, siswa jenjang sekolah apa, kelas berapa, semester berapa, dan bahkan klasifikasi pengelompokan siswa tertentu. Batasan yang spesifik ini penting artinya agar sejak awal mereka yang tidak termasuk dalam batasan tersebut sadar bahwa bahan pembelajaran yang dirumuskan atas dasar TPK itu belum tentu sesuai bagi mereka.

Mungkin bahan pembelajarannya terlalu mudah, terlalu sulit. Atau tidak sesuai dengan kebutuhannya. Dalam pembelajaran berwawasan gender, penyebutan siswa perempuan dan siswa laki-laki alam TPK kadangkadang ditekankan, terutama jika jenis perilaku yang menjadi target belajar bagi kedua jenis kelamin dibedakan levelnya, misalnya dalam pelajaran olahraga. Begitu pula, dalam pembelajaran terhadap kelas yang dibagi atas beberapa kelompok yang bahan pembelajarannya diklasifikasi atas dasar kemampuan individu siswa, maka penyebutan klasifikasi siswa tersebut juga perlu tercantum pada TPK masing-masing.

  • B = Behavior (perilaku yang dapat diamati sebagai hasil belajar), adalah perilaku spesifik khusus yang diharapkan dilakukan siswa setelah selesai mengikuti proses pembelajaran. Perilaku ini terdiri atas dua bagian penting, yaitu kata kerja dan objek. Kata kerja menunjukkan bagaimana siswa mempertunjukkan sesuatu, seperti: menyebutkan, menganalisis, menyusun, dan sebagainya. Objek menunjukkan pada apa yang akan dipertunjukkan itu, misalnya contoh kalimat pasif, kesalahan tanda baca dalam kalimat, karangan berdasarkan gambar seri, dsb. Komponen perilaku dalam TPK adalah tulung punggung TPK secara keselutuhan. Tanpa perilaku yang jelas, komponen yang lain menjadi tidak bermakna.
  • C = Condition (persyaratan yang perlu dipenuhi agar perilaku yang diharapkan dapat tercapai, adalah kondisi yang dijadikan syarat atau alat yang digunakan pada saat siswa diuji kinerja belajarnya. TPK yang baik di samping memuat unsur penyebutan audiens (siswa sebagai sasaran belajar) dan perilaku, hendaknya pula mengandung unsur yang memberi petunjuk kepada penyusun tes mengenai kondisi atau dalam keadaan bagaimana siswa diharapkan mempertunjukkan perilaku yang dikehendaki pada saat diuji.
  • D = Degree (tingkat penampilan yang dapat diterima), adalah derajat atau tingkatan keberhasilan yang ditargetkan harus dicapai siswa dalam mempertunjukkan perilaku hasil belajar. Target perilaku yang diharapkan dapat berupa: melakukan tanpa salah, dalam batas waktu tertentu, pada ketinggian tertentu, atau ukuran tingkatan keberhasilan lainnya. Tingkat keberhasilan ditunjukkan dengan batas minimal dari penampilan suatu perilaku yang dianggap dapat diterima. Di bawah batas itu, siswa dianggap belum mencapai tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan.

Contoh rumusan tujuan pembelajaran dalam pembelajaran ekonomi. Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran diharapkan:

 

Ranah Kognitif:

Siswa kelas I dapat menjelaskan ciri-ciri pasar persaingan sempurna dengan benar

              A                                B                                   C                                        D              

setelah mendengarkan penjelasan guru.

C

 

Ranah Afektif:

Setelah mendengarkan uraian guru mengenai teori permintaan diharapkan siswa kelas I dapat

                                                 C                                                                          A

menjabarkan teori permintaan 80%

                                                       B                                        D

 

Ranah Psikomotorik:

Siswa kelas II dapat mengidentifikasikan masalah inflasi dengan benar

                            A                                              B                                        D

setelah membaca dari situs internet.

C

 

      Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa: (1) tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran; (2) tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik.

Yang menarik untuk digaris bawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).

About these ads