1.1  PENDAHULUAN

Sebelum pasar barang dan jasa modern seperti saat ini terbentuk, kegiatan transaksi barang dan jasa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana.  Transaksi barang

dan jasa dilakukan melalui pertemuan langsung antara pihak  yang mengalami surplus barang dan jasa tertentu dengan pihak yang mengalami kekurangan barang dan jasa tersebut.  Model transaksi ini dikenal istilah barter.  Barter dapat dilaksanakan karena saat itu para pelaku ekonomi masih sedikit, jumlah kebutuhan belum begitu banyak dan jenis dan variasi barang kebutuhan masih sedikti.

Seiring dengan bertambahnya pelaku ekonomi, bertambahnya jumlah kebutuhan dan bertambahnya jenis dan variasi barang dan jasa yang dibutuhkan, maka kegiatan transaksi ditandai dengan adanya perantara.  Perantara dapat diartikan sebagai pelaku pasar dan dapat pula diartikan sebagai bangunan fisik pasar sebagai penghubung antara pihak yang mengalami surplus barang dan jasa dengan pihak yang mengalami kekurangan barang dan jasa tersebut.

Selain adanya perantara, awal kegiatan ekonomi modern juga ditandai dengan adanya penggunaan uang.  Awalnya, pertukaran antara pihak yang mengalami surplus uang dan pihak yang membutuhkan uang dilakukan melalui pertemuan langsung.  Seiring dengan berkembangnya perekonomian, pertukaran uang dilakukan melalui perantara, baik dalam pengertian lembaga maupun pengertian fisik.  Perantara ini selanjutnya dikenal dengan istilah lembaga keuangan.

 

1.2  SEJARAH LEMBAGA KEUANGAN    

Praktek perbankan sudah ada sejak zaman Babilonia, Yunani dan Romawi.  Aktivitas ini sangat membantu lalu lintas perdagangan.  Mula-mula aktivitas hanya tukar-menukar uang, lama kelamaan berkembang menjadi usaha menerima tabungan, menitipkan, ataupun meminjamkan uang dengan memungut bunga pinjaman.

Tahun 2000 SM, di Babilonia (di Temples of Babylon), praktek perbankan didominasi dengan transaksi peminjaman emas dan perak pada kalangan pedagang yang membutuhkan dengan tingkat bunga 20% per bulan.

Tahun 500 SM, di Yunani, aktivitas praktek perbankan saat itu adalah menerima simpanan uang dari masyarakat dan menyalurkannya pada kalangan bisnis.  Pihak bank menerima menarik biaya dari jasa penyimpanan tersebut.  Pada zaman Romawi, praktek perbankan meliputi praktek tukar-menukar uang, menerima deposito, memberi kredit, dan melakukan transfer dana.

Era perbankan modern, dimulai pada abad ke-16 di Inggris, Belanda dan Belgia.  Pada saat itu para tukang emas bersedia menerima uang logam (emas dan perak) untuk disimpan, dan sebagai bukti penyimpanan diberikanlah surat depositoyang disebut Goldsmith’s Note, yang dalam perkembangannya digunakan sebagai alat pembayaran dalam transaksi bisnis, walaupun tidak didukung oleh penyimpanan uang emas dan perak.  Inilah cikal-bakal munculnya uang kertas.

Pada awal era perbankan modern, pengaturan kredit dibagi menjadi tiga yaitu pinjaman penjualan (untuk membantu pembelian hasil-hasil panen dan membantu produsen), wesel atau bill of exchange (digunakan untuk pengiriman uang ke luar negeri) dan pinjaman laut (ditujukan untuk para pembuat kapal).

 

1.3  BENTUK LEMBAGA KEUANGAN

Menurut SK Menkeu. RI no. 792 tahun 1990 tentang “Lembaga Keuangan”, lembaga keuangan mempunyai batasan sebagai semua badan yang kegiatannya di bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan. Meskipun  dalam peraturan diutamakan untuk membiayai investasi perusahaan, tapi dalam kenyataannya dapat pula digunakan untuk kegiatan konsumsi dan distribusi barang dan jasa.

Secara umum lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dan menyalurkan dana dikelompokkan dalam dua bentuk, yaitu Bank dan bukan Bank.  Perbedaan dua lembaga keuangan ini sebagai berikut dapat dilihat pada Tabel 1.1 di bawah.

Berdasarkan UU No. 10 tahun 1998 tentang “Perubahan atas UU No. 7/1992 tentang Perbankan”, lembaga keuangan bank terdiri dari bank umum dan bank perkreditan rakyat, di mana keduanya dapat memilih pelaksanaan usahanya menggunakan prinsip konvensional ataun prinsip syariah; sedangkan lembaga keuangan bukan bank berupa lembaga pembiayaan (leasing, perusahaan modal ventura, perusahaan jasa anjak piutang, dll), usaha perasuransian, dana pensiun, pegadaian, pasar modal.

Tabel 1.1.  Perbandingan Bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank

 

Lembaga

Keuangan

Kegiatan

Bank

Bukan Bank

 

 

 

Penghimpunan Dana

* Secara langsung berupa

simpanan dana masyarakat

(tabungan, giro, deposito)

* Secara tidak langsung dari

masyarakat (Kertas berharga,

penyertaan, pinjaman/kredit dari

lembaga lain)

* Hanya secara tidak langsung

dari masyarakat (terutama

melalui kertas berharga,

penyertaan, pinjaman/kredit

dari lembaga lain).

 

 

Penyaluran Dana

* Untuk tujuan modal kerja, investasi,

konsumsi

* Kepada badan usaha dan individu

* Untuk jangka pendek, menengah

dan panjang

* Terutama untuk tujuan

investasi

* Terutama kepada badan usaha

* Terutama untuk jangka

menegah dan panjang

 

1. 4  FUNGSI BANK

Secara umum, fungsi utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan (financial intermediary).  Secara lebif spesifik, bank dapat berfungsi sebagai:

a.  Agent of trust

Berarti bank sebagai perantara yang dipercaya oleh pihak yang menyimpan uangnya di bank dan mempercayai pihak yang meminjam uangnya dari bank

b.  Agent of development

Berarti bank sebagai perantara bagi sektor moneter dan riil dalam meningkatkan pembangunan, yaitu dengan menyalurkan dananya untuk membiayai kegiatan investasi-distribusi-konsumsi.

c.  Agent of services

Disamping melakukan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana, bank juga memberikan penawaran jasa perbankan yang lain kepada masyaerakat.  Jasa yang ditawarkan erat kaitannya dengan kegiatan perekonomian, seperti jasa pengiriman uang, penitipan barang berharga, pemberian jaminan bank dan penyelesaian tagihan.

Bank yang berperan sebagai financial intermediary institution mempunyai fungsi mentransfer dana  dari penabung atau unit surplus (lenders) kepada peminjam (borrowers) atau unit defisit.

 

1.5  PERAN BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN NON-BANK

Bank dan lembaga keuangan bukan bank mempunyai peran yang penting dalam sistem keuangan, yaitu:

a.  Pengalihan aset (asset transmutation)

Yaitu  pengalihan dana/aset dari unit surplus ke unit defisit.

b.  Transaksi (transaction)

Yaitu memberi kemudahan dalam transaksi barang dan jasa.

c.  Likuiditas (liquidity)

Yaitu memberikan alternatif pengelolaan likuiditas yang dihimpun dari unit

surplus ke unit defisit

d.  Efisiensi (efficiency)

Yaitu mempermudah interaksi antara unit surplus dan unit defisit secara efisien.

 

1.6  FUNGSI INTERMEDIASI DAN PENGAWASAN BANK

Fungsi intermediasi dan pengawasan dari unit surplus dan unit defisit oleh bank disebabkan oleh dua hal:

  1. a.      Adanya asymmetric information

Asymmetric information yang dimaksud di sini adalah akses informasi yang tidak sama antara unit surplus dan unit defisit.  Informasi asimetris membuka peluang bagi pihak yang lebih banyak memiliki informasi untuk tidak mengungkapkan informasi tersebut dengan baik.

  1. b.      Adanya moral hazard

Moral hazard yang dimaksud di sini merupakan implikasi dari informasi yang tidak simetris, artinya adalah adanya kemungkinan untuk menyampaikan informasi yang salah demi alasan tertentu, misalnya menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengankenyataan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman dengan tujuan untuk mendapatkan manfaat moneter.

Untuk itu bank harus melakukan tindakan-tindakan tertentu agar pihak yang memiliki informasi lebih banyak tidak menyalahgunakan keunggulan akses informasinya.  Masalah perumusan tindakan agar informasi disampaiakan dengan benar disebut sebagai incentive problem.

Solusi utama dari informasi asimetris adalah pengawasan (monitoring) oleh pihak deposan (depositor), tapi posisi deposan ini sangat terbatas dan sulit sekali dilakukan.Oleh karena itu dilakukan pendelegasian pengawasan atau intermediasi oleh lembaga keuangan.  Delegasi monitoring adalah pengalihan kegiatan monitoring dari unit surplus kepada lembaga keuangan.

Apabila delegasi pengawasan yang dipilih sebagai solusinya, maka perlu disadari bahwa delegasi pengawasan memerlukan biaya , dan hal tersebut dilakukan atas suatu tujuan tertentu.  Tujuannya adalah untuk mendapatkan suatu rate of return tertentu hasil penyaluran dana.  Secara teoritis, permasalahan ini dapat dimodelkan berupa minimisasi biaya delegasi pengawasan dan atau maksimisasi tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return) bagi pengusaha dengan tingkat pengembalian (rate of return) tertentu bagi peminjam.

 

Ringkasan:

  • Praktik perbankan sudah ada sejak zaman Babilonia, Yunani dan Romawi.  Aktivitas ini sangat membantu lalu lintas perdagangan.  Mula-mula aktivitas hanya tukar-menukar uang, lama kelamaan berkembang menjadi usaha menerimatabungan, menitipkan, ataupun meminjamkan uang dengan memungut bunga pinjaman.
  • Menurut SK Menkeu. RI no. 792 tahun 1990 tentang “Lembaga Keuangan”, lembaga keuangan mempunyai batasan sebagai semua badan yang kegiatannya di bidang keuangan, melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai investasi perusahaan. Meskipun  dalam peraturan diutamakan untuk membiayai investasi perusahaan, tapi dalam kenyataannya dapat pula digunakan untuk kegiatan konsumsi dan distribusi barang dan jasa.
  • Bank juga berperan sebagai financial intermediary institution mempunyai fungsi mentransfer dana  dari penabung atau unit surplus (lenders) kepada peminjam (borrowers) atau unit defisit.