Pengertian dan konsep manusia

. Manusia (Human)
• Manusia sebagai makhluk raga dan jiwa
Atas dasar tinjauan manusia sebagai makhluk monodualisme, maka pendidikan akan menyelaraskan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan baik yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan jasmaniah maupun kebutuhan rohaniah dipenuhinya secara selaras dan seimbang. Selaras dan seimbang dalam arti kebutuhan-kebutuhan jasmaniah/hewaniah dipenuhi dengan pertimbangan-pertimbangan benar dan salah, indah dan tidak indah, baik dan buruk. Dengan demikian pemenuhan kebutuhan ini dilaksanakan atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut sehingga diharapkan orang dapat terpenuhi kebutuhan jasmaniahnya tanpa meninggalkan pertimbangan-pertimbangan baik atau buruknya dalam memperoleh sesuatu untuk kepentingan jasmaniah tersebut.

Hakekat Manusia

Hakekat manusia adalah sebagai berikut :Makhluk yang memiliki tenga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampumenentukan nasibnya.Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selamahidupnya.Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri,membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempatiSuatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatasMakhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembangsesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial

Manusia Sebagai Makhluk Individu

Individu berasal dari kata in dan devided. Dalam Bahasa Inggris in salah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan devided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau satu kesatuan. Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas.

Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Dalam diri individi ada unsur jasmani dan rohaninya, atau ada unsur fisik dan psikisnya, atau ada unsur raga dan jiwanya.

Setiap manusia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri, tidak ada manusia yang persis sama. Dari sekian banyak manusia, ternyata masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor fenotip dan genotip. Faktor genotip adalah faktor yang dibawa individu sejak lahir, ia merupakan faktor keturunan, dibawa individu sejak lahir. Kalau seseorang individu memiliki ciri fisik atau karakter sifat yang dibawa sejak lahir, ia juga memiliki ciri fisik dan karakter atau sifat yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan (faktor fenotip). Faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seseorang. Istilah lingkungan merujuk pada lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Ligkungan fisik seperti kondisi alam sekitarnya. Lingkungan sosial, merujuk pada lingkungan di mana eorang individu melakukan interaksi sosial. Kita melakukan interaksi sosial dengan anggota keluarga, dengan teman, dan kelompok sosial yang lebih besar.

Karakteristik yang khas dari seeorang dapat kita sebut dengan kepribadian. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh faktor bawaan genotip)dan faktor lingkungan (fenotip) yang saling berinteraksi terus-menerus.

Menurut Nursid Sumaatmadja (2000), kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi bio-psiko-fiskal (fisik dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari lingkungan. Dia menyimpulkan bahwa faktor lingkungan (fenotip) ikut berperan dalam pembentukan karakteristik yang khas dari seeorang.

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga tidak akan bisa hidup sebagai manusia kalau tidak hidup di tengah-tengah manusia.

Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.

Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, karrena beberapa alasan, yaitu:

a. Manusia tunduk pada aturan, norma sosial.

b. Perilaku manusia mengaharapkan suatu penilain dari orang lain.

c. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain

d. Potensi manusia akan berkembang bila ia hidup di tengah-tengah manusia.

Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu jika unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jadi pengertian manusia sebagai makhluk individu mengandung arti bahwa unsur yang ada dalam diri individu tidak terbagi dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Setiap individu memiliki kepribadian yang membedakan dirinya dengan yang lain. Kepribadian seseorang itu dipengaruhi oleh faktor bawaan (genotipe) dan faktor lingkungan (fenotipe) yang saling beraksi terus-menerus.

Selain sebagai makhluk individu, manusia juga dikenal sebagai makhluk sosial. Hal itu dikarenakan manusia tidak dapat hidup sendiri dan manusia memiliki dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk mencari teman yang biasanya hal ini didasari atas kesamaan ciri atau kepentingannya masing-masing. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena beberapa alasan yaitu manusia tunduk pada aturan dan norma sosial; perilaku manusia mengharapkan suatu penilaian dari orang lain; manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain; potensi manusia akan berkembang bila dia hidup di tengah-tengah manusia.

Manusia juga adalah makhluk yang berhubungan dengan lingkungan hidup disekitarnya. Terkait dengan hal ini, terdapat tiga paham yang mengatur yaitu paham determinisme (alam sebagai faktor yang menentukan), paham posibilisme, dan paham optimisme teknologi. Pada perkembangan dan kemajuan IPTEK sekarang ini, ‘seolah-olah’ penerapan serta pemanfaatannya itu memberikan ‘kemungkinan’ terhadap kemampuan manusia memanfaatkan alam lingkungan. Sehingga pada keadaan demikian, dapat berkembang pandangan “posibilisme optimis teknologi” yang secara optimis memberikan kemungkinan kepada penerapan teknologi dalam memecahkan masalah hubungan manusia dengan alam lingkungan.

Manusia harus berbaur ke dalam masyarakat. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan tentang unsur dan ciri-ciri dari masyarakat itu sendiri, diantaranya adalah Krech yang mengatakan masyarakat adalah sekumpulan orang yang sudah terbentuk lama dan memiliki sistem/struktur sosial tersendiri serta memiliki kepercayaan, sikap, dan prilaku yang dimiliki bersama.

Masyarakat berbeda dengan komunitas karena komunitas itu merupakan kelompok kecil dari masyarakat dan mereka lebih terikat oleh tempat (teritorial). Pengertian masyarakat sifatnya lebih umum dan lebih luas, sedangkan komunitas (masyarakat setempat) lebih dibatasi oleh areal kawasan serta jumlah warganya. Namun, jika ditinjau dari aktivitas hubungannya, persatuan ataupun keakraban dalam komunitas itu lebih erat dibandingkan dalam masyarakat karena para anggota komunitas memiliki unsur seperasaan, sepenangungan, dan saling memerlukan.

Masyarakat itu dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu masyarakat desa dan masyarakat kota. Perbedaan ini terletak pada fisik maupun sosial masyarakatnya. Masyarakat desa lebih identik dengan sistem kemasyarakatan yang kekeluargaan (gotong royong), keadaan daerahnya juga tenang dan damai, masyarakatnya ramah-tamah. Usia dan ketokohan sangat berperan dalam kehidupannya.

Sedangkan masyarakat desa lebih bersifat individual dan tidak memiliki hubungan yang erat satu sama lain. Wilayahnya luas dan ramai. Masyarakat kota juga sangat memperhatikan pandangan orang lain mengenai dirinya. Pembagian kerja pada masyarakat kota sudah sangat terspesialisasi. Satu orang biasanya hanya menangani satu profesi saja.

Karena sudah menjadi hakikatnya manusia itu adalah makhluk sosial maka tentu saja akan tercipta suatu interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Ada beberapa faktor yang mendasari berlangsungnya suatu interaksi sosial yaitu faktor imitasi, faktor sugesti (pengaruh psikis dari diri sendiri maupun orang lain), faktor identifikasi (dorongan untuk menjadi identik/sama dengan orang lain), dan faktor simpati (perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang lain).

Adapun syarat terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Bentuk-bentuk dari interaksi sosial itu sendiri antara lain yaitu bentuk interaksi asosiatif (kerja sama dan akomodasi) dan bentuk interaksi disosiatif (persaingan, kontravensi, dan pertentangan).

Seperti yang dikemukakan sebelumnya, bahwa masyarakat itu terdiri dari unsur dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda maka oleh karena itu timbullah sebuah statifikasi sosial dalam kehidupan masyarakat. Statifikasi sosial itu sendiri merupakan pembedaan kedudukan masyarakat ke dalam kelas-kelas tertentu secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, dan prestise.

mANUSIA SEBAGAI MAHLUK YANG BERHUBUNGAN DEBGAN ALAMNYA

Berkenaan hubungan antar manusia dengan alam, paling tidak ada tiga paham ,yaitu determinisme, posibilisme, dan optinisme teknologi. Tokoh yang memandang secara paham determinisme yaitucharles darwin, friederich ratzel, dan elsworth huntington. Determinisme merupakan alam penempatan manusia sebagai makhluk yang tunduk pada alam, alam sebagai faktor penentu.
Perkembangan teknologi telah memembawa kemajuan pemanfaatan sumber daya alam demi kepentingan kemajuan pembangunan dan penopang kesejah teraan masyarakat. Akibatnya muncul moto “teknologi merupakan tulang punggung pembangunan”. Ini merupakan pandangan posibilisme, dan optinisme teknologi. Manusia telah ketergantungan dengan teknologi.
Sebagai makhluk beragama kita harus ingat kepada allah Yang Maha Pencipta. Bukan bergantung pada teknologi yang merupakan hasil kebudayaan manusia itu tersebut. Sebagai makhluk individu, keluarga merupakan pemeran utama dalam membentuk manusia menjadi makhluk sosial. Hal ini menjadi tantangan setiap keluarga karena anak –anak merupakan SDM masa yang akan datang.

PENGERTIAN MASYARAKAT DAN CIRI – CIRINYA

Istilah masyarakat dalam bahasa inggrisnya society, sedangkan istilah komunitas dalam bahasa inggrisnya community. Dalam bahasa sehari –hari, kata ini sering disalah gunakan. Dua kata ini ditafsirkan menjadi sama. Padahal sangat berbeda arti. Society atau masyarakat berbeda dengan komunitas (community) atau masyarakat setempat.
Berdasarkan ciri atau unsur masyarakat yang dikemukakan oleh para ahli seperti Krech, Crutchfielt, Ballachey, fairchilld, horton, dan hunt dapat di ablil kesimpulan bahwa ciri atau unsur masyarakat adalah :
1. Kumpulan orang
2. Sudah terbentuk agak lama
3. Sudah memiliki sistem dan struktur sosial tersendiri
4. Memiliki kepercayaan(nilai), sikap, dan prilakuyang dimiliki bersama
5. Adanya kesinambungan dan pertahanan diri
6. Memiliki kebudayaan

Masyarakat setempat (community) merupakan bagian kelompok dari masyarakat (society) dalam lingkungan yang lebih kecil, serta lebih terikat oleh tempat (teritoral). Masyarakat dalam ini merupakan masyarakat yang bertimpat tinggal di suatu wilayah dengan batas – batas tertentu. Dimana faktor utamanya adalah interaksi yang lebih diantara anggota – anggotanya
Pengertian masyarakat (society) jelas berbeda dengan masyarakat setempat(community) . masyarakat memiliki arti yang sangat luas dan lebih umum, sedangkan masyarakat setempat lebih terbatas dan juga dibatasi dengan area kawasan. Tapi dibanding masyarakat, masyarakat dalam lebih erat hubunganya antar manusia dibanding masyarakat.

MASYARAKAT DESA DAN KOTA
Desa dan kota memiliki perbedaan secara fisik maupun secara sosial. Sebuah desa sering kali ditandai dengan kehidupan yang tenang, jauh dari hukuk pikuk keramaian, penduduknya ramah tama, saling mengenal satu dengan yang lainya, dan mata pencarian biasa sebagai petani atau nelayan. System kehidupan biasa berkelompok atas dasar kekeluargaan. Golongan orng tua biasanya memegang peranan penting dalam masyakat. Orang – orang tua memiliki pandangan yang didasari tradisi yang kuat sehingga sulit terjadinya perubahan.Desa mengalami perubahan sehingga unsur – unsur kota masuk kedalamnya. Begitu pun kota, meskipun disebut sebuah kota, ciri – ciri atau kebiasaan desa masih melekat padanya.
Sebuah kota sering ditandai dengan kehidupan yang ramai, wilayah yang luas, banyak penduduknya, hubungan tidak erat antara satu dengan yang lain, dam mata pencarian bermacam – macam . menurut Soerjono Soekamto, masyarakat kota dan desa memiliki perhatian yang beda. Masyarakat desa yang di utamakan adalah kebutuhan pokok, sedangkan kota selain kebutuhan pokok, perhatian juga pada pandangan masyarakat sekitar.
Dalam pembagian kerja masyarakat desa sudah sangat terspesifikasi. Begitu pula propesi pekerjaan sudah sangat banyak sekali. Setiap propesi memiliki ketergantungan satu dengan yang lain yang saling melengkapi. Pada masyarakat desa, memiliki pekerjaan yang sama. Seperti bertani, berladang, atau sebagai nelayan. Kehidupan orang desa yang memliki pekerjaan yang sama (homogeny) sangat menggantungkan pekerjaanya kepada keluarga yang lain.
Ferdinan Tonnies mengemukakan pembagian masyarakat dengan sebutan masyarakat gemainschaft dan geselschaft. Masyarakat gemainschaft (paguyuban) adalah kelompok masyarakat dimana anggotanya terikat secara emosional dengan yang lain. Sedangkan masyarakat geselschaft (patembeyan) ikatan diantara anggotanya kurang kuat dan bersifat rasional. Paguyuban cendrung sebagai refleksi masyarakat desa, sedangkan patembeyan refleksi masyarakat kota

INTERAKSI SOSIAL DAN PELAPISAN SOSIAL
Interaksi sosial adalah proses – proses sosial yang menuju pada hubungan – hubungan sosial yang dinamis. Bentuk umum proses – proses sosial adalah interaksi sosial yang dapat juga dinamakan proses sosial, karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas – aktivitas sosial.
1. Interaksi sosial
Adalah proses dimana orang – orang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. “ interaksi sosial adalah hubungan antara dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki prilaku individu yang lain atau sebaliknya(H. Booner)”.

2. Interaksi sosial sebagai factor utama dalam kehidupan
Bentuk umum proses – proses sosial adalah interaksi sosial, oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas – aktivitas sosial. Interaksi antara kelompok – kelompok manusia terjadi antara kelompok tersebut sebagai kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota – anggotanya.
Adapun factor –faktor yang mendasari berlangsungnya iteraksi sosial yaitu :
1) Faktor imitasi  mempunyai peran sangat penting dalam proses interaksi social.
2) Faktor sugesti  merupakan pengaruh psikis, baik yang dating dari dirinya sendiri (autosugesti) maupun dari orang lain (heterosugesti)
3) Factor identifikasi  dalam psikologi berarti dorongan menjadi identik (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun batiniah.
4) Factor simpati  adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain.
Factor – factor tersebut dapat begerak sendiri – sendiri secara terpisah maupun dalam keadaan tergabung. Tanpa ada pemahaman yang sama tentang maksud dan tujuan masing – masing pelaku, interaksi sosial tidak akan berjalan baik. Dengan demikian, hubungan para pelaku tersebut terlihat secara nyata dalam bentuk tindakan tertentu.
3. Syarat – syarat terjadinya interaksi sosial
Untuk terjadinya interaksi sosial, diperlukan adanya syarat – syarat yang harus ada, yaitu :
1) Adanya kontak sosial (social contact )  dalam bahasa latin terdiri dari “con” yang artinya bersama – sama dan “tanga” yang artinya menyentuh jadi jika diartikan menjadi “ bersama – sama menyentuh”. Dika dikaji lebih lajut maka artinya adalah hubungan secara sosial.
2) Adanya komunikasi  seseorang memberikan penafsiran pada tingkah laku atau perasaan – perasaan orang lain dalam bentuk pembicaraan, gerak – gerik badan, atau sikap – sikap tertentu.

Selain itu kontak sosial dapat terjadi dan berlangsung dalam tiga bentuk :
1) Antar orang – perorang
2) Antar orang perorangan dengan suatu kelompok atau sebaliknya
3) Antara kelompok manusia dengan kelompok manusia lain

4. Bentuk –bentuk interaksi sosial
Bentuk –bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama ( cooparation), persaingan (competition), dan pertentangan ( conflict). Dari interaksi sosial timbul dua proses sosial yaitu proses asosiatif dan proses disosiatif. Bentuk interaksi asosiatif seperti kerja sama (bargaining, coorperation, dan coalitation) dan akomondasi (coercion, compromise, arbiration, dll.) bentuk interaksi disosiatif seprti persaingan (competition), kontravensi (contravention dan pertentangan ( conflict).

STRATIFIKASI SOSIAL DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Setiap individu adalah anggota suatu kelompok. Individu bisa menjadi anggota lebih dari satu kelompok sosial. Individu memiliki kemampuan untuk
1) Menempatkan diri
2) Ditempatkan orang lain dalam suatu lapisan sosial ekonomi tertentu.

Max weber menjelaskan Stratifikasi sosial dalam tiga dimensi yaitu dimensi kekayaan, kekuasaa, dan prestise. Dimensi ini membentuk formasi sosial tersendiri. Dimensi kekayaan membentuk formasi yang disebut kelas, dimensi kekayaan membentuk partai, dan dimensi prestise membentuk status.
Kelas bukanlah komunitas, ia hanya merupakan dasar bagi tindakan komunal. Situasi kelas ditentukan oleh suatu pasar. Bilamana barang ekslusif disediakan di pasar untuk dipertukaran yang besar, maka kelompok orang dengan pemilikikan tertentu itulah yang mempunyai kemungkinan untuk menguasai barang tersebut.
Jika kelas mengejar kepentingan ekonomi, maka pembahasan partai adalah berkaitan dengan penguasaan sosial. Berbeda dengan kelas, kelompok status merupakan komunitas. Pemilik dan bukan pemilik dapat masuk dalam kelompok status yang sama. Pada kelompok status , kehormatan status dapat di cerminkan dalam gaya hidup orang – orang yang menjadi anggotanya. Sedangkan peluang hidup ditandai dengan perbedaan kelas ekonomi yang keanggotaanya ditandai oleh peranan individu dalam produksi.
Gaya hidup seseorang besar sekali di pengaruhi oleh nilai dan norma yang berada di sekelilingnya terutama pada masyarakat yang masih kuat norma – normanya. Nas dan sande berusaha membuat suatu pengelompokan dimensi gaya hidup dalam lima kelompok yaitu:
1) Dimensi morfologis adalah merujuk pada lingkungan dan aspek geografis
2) Dimensi sosial dan jaringan kerja
3) Dimensi bidang kehidupan (domain)
4) Dimensi makna gaya hidup
5) Dimensi simbolik (style)

Bentuk – bentuk hubungan sosial ini baik yang asosiatif ataupun yang disosiatif akan menimbulkan kelompok – kelompok sosial. Dalam mencapai kesesuaian dalam penilaian terhadap norma – norma sosial, seorang individu akan berusaha mengadopsi sejumlah kebiasaan tertentudari individu lain dan atau kelompok lain yang disebut sebagai kelompok acuan sebagai individu atau kelompok yang ditiru kelakuannya. Keberhasilan peniruan ini tergantung pada :
a) Kemampuan orang meniru
b) Penerimaan kelompok luar yang dijadikan kelompok acuan
c) Dalam posisi individu sudah keluar dari keanggotaan kelompok dan belum diterima sebagai anggota kelompok acuan, maka ia berada pada posisi pinggiran atau marginal man.
Seorang individu yang hubungan sosial dengan kelompknya sudah pudar ia mengorientasikan dirinya pada kelompok lain, maka ia harus mencari acuan dari norma dan kebiasaan yang berkembang pada indivudu anggota kelompok baru tersebut.

Interaksi Sosial dan Sosialisasi

1. Interaksi Sosial

Kata interaksi berasal dari kata inter dan action. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antara individu, kelompok sosial, dan masyarakat.

Interaksi adalah proses di mana orang-oarang berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dala pikiran danb tindakana. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.

Interaksi sosial antar individu terjadi manakala dua orang bertemu, interaksi dimulai: pada saat itu mereka saling menegeur, berjabat tangan, saling berbicara, atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk dari interaksi sosial.

Interaksi sosial terjadi dengan didasari oleh faktor-faktor sebagai berikut

  1. Imitasi adalah suatu proses peniruan atau meniru.
  2. Sugesti adalah suatu poroses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau peduman-pedoman tingkah laku orang lain tanpa dkritik terlebih dahulu. Yang dimaksud sugesti di sini adalah pengaruh pysic, baik yang datang dari dirinya sendiri maupuhn dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik. Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya, dengan interaksi sosial adalaha hampir sama. Bedanya ialah bahwa imitasi orang yang satu mengikuti salah satu dirinya, sedangkan pada sugesti seeorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima oleh orang lain di luarnya.
  3. Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identi (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun batiniah.
  4. Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilain perasaan seperti juga pada proses identifikasi.