• Ilmu dan Bahasa

Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang mempunyai ciri tertentu yang sesuai dengan teori dan kenyataan yang ada. Ilmu menurut wikipedia bisa berarti proses memperoleh pengetahuan, atau pengetahuan terorganisasi yang diperoleh lewat proses tersebut. Ilmu itu memiliki ciri, keteraturan, sistematis dan memilki penalaran. Bahasa menurut Salliyanti (2005:3) adalah alat untuk berkomunikasi. Selain itu bahasa adalah isyarat vocal yang arbitrer yang digunakan oleh anggota masyarakat (kelompok social) yang bermanfaat bagi kerja sama, saling memahami pribadi-pribadi, demikian pula keinginan, dan cita-cita. Maksudnya apapun yang dilakukan oleh manusia, kapanpun dan dimana pun, mereka menggunakan bahasa. Bahasa digunakan oleh siapa pun, baik anak kecil maupun orang dewasa, orang yang sehat dan normal maupun orang yang mengalami gangguan dalam berbahasa, semuanya menggunakan bahasa. Orang yang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan gangguan dalam kebahasaannya, tetap dapat berkomunikasi dengan bahasanya. Salliyanti berpendapat (2005:4) bahwa bahasa dapat dilihat sebagai bagian dari psiokolgi manusia,
tingkah laku tersendiri, tingkah laku yang fungsi utamanya adalah komunikasi dan interaksi. Bahasa sangat penting bagi kehidupan menusia, karena dengan bahasa manusia dapat mengkomunikasikan pikirannya. Tanpa bahasa maka hidup manusia akan lumpuh.
Oleh sabab itu manusia perlu bahasa sabagai sarana untuk berkomunikasi. Manusia berbahasa sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kemampuannya masing-masing.

  • Ilmu Bahasa atau Linguistik

Ilmu yang mempelajari bahasa disebut dengan lingustik. Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari zaman Yunani pada abad 6 SM. Menurut Kwary, studi tentang bahasa dapat dibedakan menjadi dua yaitu: tata bahasa tradisional dan linguistic
modern. Tata bahasa tradisional membahas tentang tata bahasa Yunani dan Latin.Tata bahasa Yunani-Latin terkenal dengan tata bahasa Dionysius Thrax. Tata bahasa ini mempengaruhi bahasa-bahasa yang ada di Eropa. Tata bahasa ini pada abad 5 diterjemahkan ke dalam bahasa Armenia, kemudian ke dalam bahasa Siria. Selanjutnya para ahli tata bahasa Arab menyerap tata bahasa Siria.
Di Asia Selatan, perkembangan bahasa pesat terjadi di India dengan ahli bahasanya Panini (abad 4 SM). Tata bahasanya dikenal dengan tata bahasa Sanskrit. Objek penelitian adalah bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai hubungan kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa dikelompokkan ke dalam keluarga bahasa atas dasar kemiripan fonologis dan morfologis. Dengan demikian dapat diperkirakan apakah bahasa-bahasa tertentu berasal dari bahasa moyang yang sama atau berasal dari bahasa proto yang sama sehingga secara genetis terdapat hubungan kekerabatan di antaranya. Bahasa-bahasa Roman, misalnya secara genetis dapat ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia. Bahasa Non-Roman yang juga berinduk pada bahasa Latin adalah Inggris, Jerman, Belanda, Swedia dan Denmark.

  • Ciri lingusituk pada abad -19 ini adalah:

1. Penelitian bahasa dilakukan terhadap bahasa di Eropa.
2. Bidang utama yang diteliti adalah linguistik historis komparatif, yaitu hubungan
kekerabatan dalam bahasa di Eropa.
3. Pendekatan bersifat atomistis, artinya unsur bahasa yang diteliti tidak
dihubungkan dengan unsur bahasa yang lain.
Pada abad 20, penelitian bahasa berkembang terhadap bahasa lain di Amerika
(bahasa-bahasa Indian), afrika, dan Asia (bahasa Papua dan bahasa negara di Asia).
Cirinya:
1. Penelitian meluas ke bahasa di Amerika, Afrika dan Asia.
2. Pendekatan bersifat struktualis dan funhsionalis.
3. Linguistik lebih mengkhususkan lagi dalam bidang mikrolinguistik,
makrolinguistik dan sejarah linguistik.
4. Berkembangnya penelitian teoritis.

5. Otonomi ilmiahmakin menonjol, dan penelitian antar disi[lin juga berkembang.

 

  • Fungsi Bahasa

Bahasa mempunyai dua fungsi, yaitu:
1. Fungsi komunikatif. Artinya bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi antar manusia.
2. Fungsi kohesif.
Artinya bahasa sebagai sarana budaya untuk mempersatukan kelompok manusia
yang menggunakan bahasa yang sama.
Dengan memperhatikan fungsi bahasa maka bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa nasional karena fungsi kohesifnya. Bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa nasional karena untuk mempersatukan bangsa Indonesia, selain itu sebagian besar suku bangsa
yang ada di Indonesia menggunakan bahasa ibu atau lingua franca adalah bahasa Indonesia.

  • Perkembangan Bahasa

Bahasa di dunia ini selalu berkembang dari masa ke masa. Secara linguistik telah diamati manusia memiliki beragam bahasa. Dari keberagaman bahasa ini ternyata berasal dari kelompok bahasa yang serumpun. Keserumpunan ini terjadi karena wilayah
geografisnya yang berdekatan, seperti bahasa Indonesia, Melayu di Malaysia, Tagalog di Filipina termasuk dalam rumpun Austronesia. Secara geografis, rumpun Austronesia ini berada di kawasan Asia Tenggara. Faktor-faktor yang mengakibatkan manusia memilki
keberagaman bahasa adalah: (1). Geografis, (2). Manusia itu sendiri sebagai pengguna bahasa, dan (3). Kebutuhan manusia akan alat komunikasi. Perkembangan bahasa mengantarkan bahasa tertentu sebagai bahasa mayoritas yang digunakan di dunia ini. Sebut saja bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, Arab, dan bahasa lain. Yang paling banyak digunakan di dunia adalah bahasa Innggris. Bahasa Inggris dapat menjadi bahasa yang menduinia karena pengaruh otoritas penguasa di beberapa daerah kekuasaanya. Seperti diketahui, negara Inggris pernah menguasai atau menjajah beberapa negara di duinia, contohnya Malaysia dan Singapura. Akibatnya
rakyat Malaysia dan Singapura fasih berbahasa Inggris. Karena banyaknya daerah jajahan Inggris ini mengakibatkan banyak pula orang dapat menggunakan bahasa Inggris. Jadilah bahasa Inggris bahasa dunia. Bahasa Arab sudah menjadi bahasa yang juga diperhitungkan orang di dunia sebagai alat untuk berkomunikasi, namun perkembangannya tidaklah sehebat bahasa
Inggris. Hal ini terjadi karena bangsa Arab mempunyai perangai yang sering membuat onar sesama mereka. Ini berakibat buruk pada perkembangan bahasa Arab yang digunakan bangsa Arab itu sendiri. Di dalam berbahasa, irama bahasa yang digunakan manusia dipengaruhi juga oleh letak geografis mannusia itu berada. Orang yang berada di daerah pantai akan memiliki intonasi suara yang keras. Ini terjadi karena manusia itu menyeimbangkan suaranya dengan suara ombak yang berdebur keras. Lain halnya dengan orang yang berada di pegunungan, mereka memiliki suara yang intonasinya lemah.

  • Simpulan

Bahasa sebagai alat komunikasi bagi manusia memiliki keteraturan. Keteraturan bahasa ini dapat dipelajarai dalam ilmu bahasa atau linguistik. Ilmu tanpa bahasa tidak berkembang, bahasa tanpa ilmu tidak beraturan. Ilmu dan bahasa saling besinergi, bahasa sebagai alat untuk mengembangkan ilmu dan ilmu dapat menunjang perkembangan bahasa.

Bahasa sebagai produk kebudayaan.

Pengetahuan tentang faktor‑faktor alamiah yang membentuk bahasa sebagai suatu ilmu akan sangat membantu dalam pembahasan kali ini. Dalam ilmu peagetahuan alam obyek dasar bagi pengetahuan adalah dunia materi yang meliputi bintang, atom, tanaman dan kromosom. Dalam ilmu tentang manusia., sifat‑sifat yang dipelajari adalah tentang manusia sebagai individu dan manusia sebagai bagian dari suatu kelompok. Termasuk dalam ilmu pengetahuan tentang manusia antara lain, pengetahuan itu sendiri, sejarah, bahasa, seni dan agama.

Telah dengan jelas diketahui bahwa. prinsip‑prinsip dasar dalam bahasa adalah sebagai produk dari budaya yang secara ilmiah berkembang. Bahasa merupakan harta yang tak temilai dalam budaya manusia yang terpelihara dan diturunkan secara turun­temurun dari generasi ke generasi melalui pendidikan. Bahasa tidak diwariskan melalui serangkaian proses seperti halnya sifat‑sifat dasar alamiah dan tidak pula ditularkan melalui penyakit tertentu. Seseorang dapat berbicara dalam bahasa tertentu karena ia tinggal dan diam menjadi bagian dari suatu komunitas masyarakat dimana ia tinggal dan dibesarkan. Banyak generasi yang lahir dalam suatu tradisi berbahasa tertentu yang tidak memiliki pengaruh dari asal. garis keturunan darimana ia berasal. Seorang bayi Cina yang lahir dari garis keturunan nenek moyang sejak beribu tahun yang lalu, jika. ia dididik dan dibesarkan dalam lingkungan yang berbahasa. Inggris, akan merdapatkan pengetahuan dan fasilitas, berbahasa Inggris seperti halnya orang lain yang lahir dalam garis keturunan lingkungan berbahasa Inggris dan mungkin suatu saat nanti akan menemukan kesulitan untuk mempelajari bahasa nenek moyangnya. sendiri, yaitu bahasa Cina.

Bahasa kemudian akan menjadi pencapaian budaya, daripada sekedar pertumbuhan biologis alamiah seseorang dan menjadikannya subyek terhadap bermacam variasi dan hal‑hal menarik lainnya yang menjadi karakteristik produk dalam proses kreasi umat manusi

5.2. Lambang‑lambang Bahasa.

Yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah sifat‑sifat dasar yang dimiliki bahasa yang diproduksi dan ditransfer melalui budaya? Pada mulanya jawabannya adalah kata, lalu apakah sebuah kata itu? Kata adalah suara yang dihasilkan dan diartikulasikan oleh lidah dan perangkat bicara lainnya. Atau. tanda‑tanda yang dipresentasikan dalam suatu latarbelakang seperti tulisan pada kertas ini.

Namun tak semua artikulasi kata maupun tulisan mewakili bahasa secara benar dan tidak pula mengungkapkan intisari dari bahasa itu sendiri.

Tanda, suara dan benda‑benda lainnya menjadi bahasa bilamana ia mempunyai karakter simbolis. Artinya bilamana semua itu mewakili atau menerangkan hal lainnya yang mereka representasikan. “Tinta” misalnya memiliki arti sebuah botol yang berisi cairan untuk menulis atau “Tanto” yang mewakili sebuah nama orang, namun hal ini tidak menjelaskan semua tepat hakekat bahasa itu sendiri, karena entitas bahasa itu sendiri tidak melulu merupakan serangkaian kata benda, namun ada juga kata kerja, kata sambung, preposisi dan kata sifat yang tidak memiliki bentuk fisik namun memiliki peran penting dalam sistem bahasa itu sendiri.

Hal ini yang kemudian menimbulkan kemungkinan jawaban kedua terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang sifat bahasa. Kemimgkinan jawaban kedua tidak lagi menunjukkan pada benda saja, namun inti bahasa terletak pada ide atau makna. Ideasi ini merupakan pengetahuan intelektual atai realitas rasional ia adalah sifat mental dalam suatu karakter. la mewakili fungsi dasar seorang manusia yang dinamakan intelegensi atau alasan.

5.3. Bahasa dan Makna

Sifat dasar bahasa sebagai suatu makna dalam sebuah sistem lambang dapat diperjelas dengan pemahaman terhadap empat komponen pembentukan bahasa:

1. bahwa adanya dunia dengan entitas nyata seperti pohon, bintang, dan orang.

2. adanya manusia yang memiliki kemampuan untuk menghubungkan dirinya dengan entitas nyata tadi.

3. adanya lambang dalam arti suara dan tanda ,yang menjadi kulit bahasa itu sendiri.

4. adanya sekumpulan ide yang memberikan makna terhadap lambang bahasa.

5.3.1. Persistensi dalam asosiasi

Rahasia utama dari sebuah bahasa adalah adanya persistensi dalam asosiasi. Pada saat secara intelektual terhadap entitas tertentu (misalnya buku) seseorang akan menghubungkannya dengan dengan lambang tertentu (kata “buku”) yang menunjukkan kelas obyek tertentu. Kejadian yang simultan dalam dua hubungan diatas terjadi saat sebuah buku ditunjukkan dan pikiran kita menyusun kata “buku” dan persepsi pikiran kita terhadap kata buku merujuk pada obyek buku itu sendiri.

 

5.3.2. Pluralitas dalam lambang.

Poin utama sekarang bukanlah cara pengucapan yang membingungkan, namun lebih kepada keutamaan makna yang membedakan simbol‑simbil bahasa tertentu. Orang‑orang diseluruh dunia memiliki konsep yang sama tentang “langit”, namun simbol‑simbol tesebut dapat berbeda, seperti dalam bahasa Perancis ciel‑ dalam bahasa Jerman himmel, misalnya sangat berbeda satu dengan yang lainnya

Walaupun untuk keperluan mengingat dan kejelasan pada hubungan symbol­ide ini, untuk itu prinsip‑prinsip dalam membuat keputusan tidak serta merta dapat dikesampingkan. Lambang‑lambang dapat merujuk pada suatu ide, namun halnya tidak selalu demikian.

5.3.3. Pendidikan dan keutamaan dari makna.

Keutamaan makna dalam bahasa memiliki konsekuensi terhadap pengajaran bahasa yang tidak hanya mengajarkan kata‑kata saja, melainkan juga lambang­-lambang yang memiliki maknapun harus dipelajari. Untuk mengenal kata‑kata dan berbicara atau menulis tidaklah diperlukan bahasa. Segala sesuatu hal tergantung pada makna. Seorang guru bahasa hanya akan berhasil jika siswanya mengerti akan makna, ide, konsep yang akan digunakannya untak berekpresi.

5.3.4. Indera ‑ Ruang dan Waktu

Bahasa berdasarkan pada penggunaan materi yang akan mewakili sebuah ide atau makna. Yang paling penting perasaan berbahasa adalah melalui penglihatan dan pendengaran, yang berhubungan dengan bahasa tulisan dan bahasa verbal.

Perbedaan yang terpenting dalam tipe‑tipe lambang adalah antara perwakilan mode spasial dan temporal. Sebuah ideograph yang melambangkan sebuah rumah dapat ditunjukkan dengan simbol, yang merujuk pada tipe spasial dimana ide yang ditunjukkan menunjukan bentuk spasial. Lain halnya dengan mode verbal yang merupakan simbol temporal karena bentuk yang ditunjukkan adalah serangkaian bunyi pada suatu waktu. Tulisan memiliki kedua dimensi spasial dan temporal. Unit­-unit simbol individual (seperti surat atau ideogram) adalah spasial dan ini kemudian disusun dalam urutan spasial dengan menggunakan aturan suksesi (misaInya dengan membaca secara horizontal dari kiri ke kanan) yang merujuk pada rentang temporal.

Hubungan antara lambang penglihatan dan lambang suara tidaklah selalu terjadi secara ekonomis. Persepsi visual secara umum lebih efisien daripada persepsi auditorial hanya karena yang satu terjadi secara spontan sedangkan yang lainnya melalui rentag waktu tertentu. Seseorang bisa mendapat makna bentuk visual dalam penglihatan sekilas sedangkan bentuk yang sama bila diucapkan akan memerlukan waktu yang cukup agar rangkaian bunyi tersebut menjadi lengkap.

5.4. Aturan kombinasi

Untuk tujuan menyederhanakan lambang dan menunjukkan hubungan, maka pendekatan kedua dalam pemberian lambang harus dilakukan. Daripada menciptakan simbol sederhana yang berbeda untuk setiap ide, maka sekumpulan lambang dasar digunakan dan elemen‑elemea ini dikombinasikan dalam berbagai cara tergantung pada aturan‑aturan definit untuk membentuk gabungan lambang yang mewakili suatu ide. Contoh yang digunakan dalam hal ini adalah susunan abjad, dimana kata‑kata dibentuka dengan menggunakan berbagai macam huruf yang dikombinasikan. Contoh lainnya adalah serangkaian bunyi dasar yang digabungkan untuk membentuk kata. Metode kombinasi ini mempermudah produksi dari bermacam‑macam lambang.

Dari fakta bahwa bahasa merupakan komposit, maka ada tiga konsekuensi yang terjadi berikut ini.

5.4.1. Pengetahuan formal

Pertama, pengetahuan yang diexpresikan melalui bahasa seringkali secara alamiah adalah formal, mengkomunikasikan informasi tentang aturan‑aturan dalam menggabungkan kata‑kata.

Untuk memahami bahasa secara benar adalah penting untuk mewaspadai keformalan sebuah kalimat.

5.4.2. Bermacam makna

Biasanya bahasa mengekspresikan sesuatu yang lebih dari pada sekadar menggunakan kata‑kata. Dalam hal inj susunan elemen‑elemen bahasa (misaInya huruf dan kata) adalah faktor yang menentukan. Oleh karena itu, keberagaman dan cakupan dari apa yang dapat dikatakan akan tergantung dari ketepatan aturan dalam membuat suatu gabungan.

Salah satu tugas dari pendidikan bahasa. adalah mengasah keahlian dalam menganalisis struktur formal sebuah kalimat untuk mengekspresikan dan menerjemahkan arti secara jelas dan tepat sebaik mungkin.

5.4.3. Keterbatasan bahasa

Akhimya, komposit alamiah struktur suatu bahasa akan menghadapi batasan dalam cara mengekpresikannya. Gabungan lambang yang dihasilkan dengan menggabungkan huruf‑huruf tertentu ataupun suara menurut aturan‑aturan yang telah ditentukan merupakan sekumpulan khusus dari lambang, yang memiliki bentuk yang terbatas dari segala kemungkinan yang mungkin ditimbulkanuya.

 

5.5. Bahasa dan Sifat Alamiah Manusia

Kemampuan berbahasa merupakan ciri khusus pada manusia. Binatang‑binatang lainnya menggunakan beberapa variasi melihat dan membunyikan suara namun mereka tidak dapat memprosesnya kecuali hanya melalui penginderaan yang tajam, fasilitas yang hanya dimiliki manusia dalam berbahasa.

Bahasa tergantung pada kekuatan alasan atau akal. Dari data yang ada, persepsi merupakan suatu aspek yang abstrak dari konsepsi‑konsepsi, atau arti dari lambang‑lambang kata yang ada. Bahasa merupakan suatu bukti kegiatan intelektual manusia. Manusia tidak akan mencapai puncak kedewasaannya sebagai mahluk yang rasional yang dapat dipisahkan dari keahliannya berbahasa. Untuk alasan inilah Maka penguasaan terhadap bahasa menjadi sangat penting dalam suatu sistem pendidikan.

 

5.6. Bahasa dan Lingkungan Sosial

Bahasa sebagai akibat dari adanya sosialisasi tidak dapat dihindari. Manusia merupakan mahluk sosial yang bermasyarakat, dia bukanlah hanya hidup secara individual. Manusia tidak secara kebetulan menjadi sosial, dia secara alamiah menjadi anggota suatu masyarakat.

5.6.1. Komunikasi

Sifat sosial suatu bahasa secara alamiah adalah menjadi media komunikasi. Komunikasi diartikan membuat suatu komunitas, atau secara umum adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan.

Komunikasi linguistik merupakan hasil dari kesepakatan yang dapat diterima oleh suatu masyarakat secara luas. Bahasa merupakan istrumen yang fundamental dalam suatu masyarakat.

5.6.2. Bahasa dan kebudayaan

Kebudayaan memiliki banyak faktor dan salah satunya termasuk bahasa. Segala sesuatu yang terdapat yang ada di alam merupakan suatu bentuk dari kebudayaan. Bahasa merupakan suatu sumber pengetahuan dalam kebudayaan. Pentingnya sains, merupakan suatu pemikiran modem Bayangan yang penting mengenai segala sesuatu hal tentang kebudayaan tercermin pada adanya pemahaman terhadap bahasa itu sendiri.

5.7. Studi tentang Bahasa Asing

Beberapa pakar bahasa dapat menterjemahkan yang pada gilirannya orang awam dapat membaca segala sesuatunya dalam bahasa ibunya.

5.7.1. Bahasa asing untuk bepergian

Ada beberapa kelemahan untuk memahami suatu bahasa dan adanya kebiasaan untuk mengucapkan sebuah kata dengan sempuma. Orang yang berbahasa Inggris biasanya dapat menemukan seseorang yang mengerti bahasa Inggris daripada ia menggunakan bahasa asli ditempat (negara) yang ia siggahi.

5.7.2. Memahami asal

Alasan lainnya untuk mempelajari bahasa lain adalah adanya sudut pandang yang berbeda yang akan didapat dari asal bahasa seseorang. Mempelajari bahasa asing akan membuat seseorang menjadi sadar dan kritis terhadap bahasa pada umumnya.

1. Kesadaran terhadap struktur bahasa

Kasus yang ada dalam memahami suatu bahasa adalah memahami struktur alamiah dari semua bahasa, termasuk pada penggunaan bahasa sehari‑hari. Banyak macam/variasi yang dapat diartikan sebagai suatu pemahaman/kombinasi suatu ketentuan yang ada aturannya menjadikan suatu. bukti adanya beberapa, pertanyaan tentang bahasa baru bagi orang yang tidak biasa menggunakannya.

2. Pemahaman terhadap budaya lain

Dengan melalui bahasa, seeorang dapat berparisipasi dalam pemahaman kehidupan sebagai sebuah kebudayaan. Salah satu alasan untuk mengerti bahasa asing adalah untuk dapat mengerti secara benar dan kebudayaan yang dapat direpresentasikan.

Argumen yang ada menunjukkan bahwasannya bahasa memiliki suatu efek dimana bahasa yang satu tidak dapat diterjemahkan pada bahasa lainnya. Untuk­ memahami kebudayaan lain maka harus memahami bahasanya pula. Dan dalam mempelajari bahasa asing maka dapat memperluas pandangan seseorang, memperdalam apresiasi, dan menciptakan suatu perspektif baru melalui pintu yang terbuka untuk kebudayaan lainnya.

5.8. Bahasa dan Realitas

Pertanyaan yang paling fundamental adalah dasar filosofi dari bahasa itu sendiri yang menyatakan status metafisik dari suatu bahasa. Ini merupakan masalah yang klasik, yang membedakan jawaban dimana sekolah mengajarkan realisme dan nominalisme. Golongan realis percaya bahwa bahasa mengungkapkan struktur sebuah realita. Nominalis percaya bahwa kata‑kata adalah hanya merupakan instrumen konvensional yang diciptakan untuk keperluan berkomunikasi.

Perbedaan sudut pandang filosofis tentang bahasa antara realis dan nominalis menjadikannya faktor penentu dalam pemikiran pendidikan dan pada tataran prakteknya.

Masalah yang timbul dari realisme dan nominalisme kemudian, baik dalam matematika maupun bahasa pada umumnya, mengurangi masalah‑masalah hubungan antara berpikir dan menjadi. Realis percaya bahwa ide, konsep, bentuk dalam hal tertentu merupakan realitas utama, agen dari kreativitas, hukum immanen atau struktur dasar dari banyak hal. Sedangkan nominalis percaya bahwa pikiran merupakn instrumen atau alat yang digunakan manusia dalam penyesuaiannya terhadap lingkungan.

Peran Bahasa Dalam Ilmu
Peran bahasa dalam ilmu erat hubungannya dengan aspek fungsional bahasa sebagaimedia berpikir dan media komunikasi. Sehubungan dengan itu, pembahasan tentang permasalahan ini akan disoroti dalam dua bagian: (1) hubungan bahasa dan pikiran dan (2) bahasa sebagai media komunikasi.(1) Hubungan Bahasa dan PikiranBerpikir merupakan aktivitas mental yang tersembunyi, yang bisa disadari hanya olehorang yang melakukan aktivitas itu. Miller (1983: 172) mengatakan: “Thinking, by alldefinitions, is a covert activity, witnessed only by the person in it.” Lebih jauh, Miller mengatakan bahwa tindakan berpikir sering digambarkan sebagai kegiatan berbicara padadiri sendiri (intrapersonal communication), mengamati dan memanipulasi gambar-gambar mental. Dengan kemampuan berpikirnya, manusia bisa membahas obyek-obyek dan peristiwa-peristiwa yang tidak berada atau sedang berlangsung disekitarnya. Kemampuan berpikir juga kadang-kadang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tanpa mencoba berbagai alternatif solusi secara langsung (nyata).Peran penting bahasa dalam inovasi ilmu terungkap jelas dari fungsi bahasa sebagaimedia berpikir. Melalui kegiatan berpikir, manusia memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuandengan cara menghimpun dan memanipulasi ilmu dan pengetahuan melaluiaktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, dan membayangkan.Selama melakukan aktivitas berpikir, bahasa berperan sebagai simbol-simbol (representasimental) yang dibutuhkan untuk memikirkan hal-hal yang abstrak dan tidak diperolehmelalui penginderaan. Setiap kali seseorang sedang memikirkan seekor harimau, misalnya,dia tidak perlu menghadirkan seekor harimau dihadapannya. Makalah-makalah yangrelevan, yang berfungsi sebagai representasi mental tentang harimau, sudah dapatmembantunya untuk memikirkan hewan itu. Cassirer (dalam Suriasumantri, 1990: 71)mengatakan manusia adalah Animal symbolicum , mahluk yang menggunakan simbol, yangsecara generik mempunyai cakupan lebih luas dari homo sapiens , mahluk yang berpikir.Tanpa kemampuan menggunakan simbol ini, kemampuan berpikir secara sistmatis danteratur tidak dapat dilakukan.Bahasa memang tidak selalu identik dengan berpikir. Jika seseorang ditanya apa yangsedang dipikirkannya, dia akan menggambarkan pikirannya melalui bahasa.meskipun pikirannya tidak berbentuk simbol-simbol linguistik ketika dia ditanya, dia pastimengungkapkanpikiran itu dalam bentuk simbol-simbol linguistik agar proses komunikasidengan penanya berjalan dengan baik. Namun, meskipun bahasa tidak identik dengan berpikir, berpikir tidak dapat dilakukan tanpa bahasa. Bahkan, karakteristik bahasa yangdimiliki seseorang akan menentukan objek apa saja yang dapat dipikirkannya. Berbagai
 filsuf menyatakan bahwa suku-suku primitif tidak dapat memikirkan hal-hal yang‘canggih’ bukan karena mereka tidak dapat berpikir, tetapi karena bahasa mereka tidak dapat memfasilitasi mereka untuk melakukannya (Miller, 1983: 176). Kenyataan initerungkap jelas dalam diri mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri. Dia akan berhasilmenyelesaikan studinya hanya jika dia menguasai bahasa yang digunakan dalam proses pembelajaran. Mengingat betapa pentingnya peran bahasa dalam proses ini, tidaklah berlebihan bila Tomasello (1999) menegaskan bahwa bahasa adalah fungsikognisi tertinggi dan tidak dimiliki oleh hewan.Selaras dengan itu, pandangan berbagai antropolog budaya juga menunjukkan bahwa bahasa juga berperan dalam membentuk, mempengaruhi, dan membatasi pikiran.Penelitian tentang kemampuan mengingat warna membuktikan bahwa peserta yang bahasaibunya memiliki kata untuk warna yang diujikan terbukti lebih mampu mengingat warna-warna tersebut. (Wikipedia,2008). Sehubungan dengan itu, Miller (1983: 176)menegaskan: “language exerts a molding and constraining influence on thought.” Variasi pengungkapan pengalaman melalui bahasa yang berbeda sangat erat hubungannya denganvariasi pandangan hidup atau kebudayaan dalam masyarakat manusia. Karena bahasadipelajari seseorang sejak usia dini, dan bahasa tersebut merupakan sarana utama baginyauntuk mempelajari segala sesuatu, termasuk budaya dan pandangan hidup, bahasa itu akanmempengaruhi persepsinya tentang realitas. Sebagai contoh, ungkapan “Time flies”, “Elreloj anda” (waktu berjalan, bahasa Spanyol) dan “Waktu berjalan” bisa dihubungkandengan perbedaan antara persepsi orang Amerika, orang Spanyol dan orang Indonesiatentang waktu. Orang Amerika selalu bergegas dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya,sedangkan orang Spanyol dan orang Indonesia cenderung memandang hidup lebih santai(Rahmat, 2005 :274).Hal ini ditegaskan oleh hasil penelitian Ford dan Peat (1988) yang mempertanyakan:”Do we speak (have language) because we think, or do we think because we speak?”Penelitian itu mengungkapkan bahwa pengaruh realitas bahasa seseorang terhadap pikirannya lebih dominan daripada pengaruh pikirannya terhadap bahasanya. Bahasa tidak hanya berperan sebagai ‘kendaraan’ yang digunakan untuk menyalurkan informasi tetapi juga sarana untuk membentuk pikiran. Sebagai ilustrasi, struktur bahasa Inggris yang linier membuat penutur asli bahasa Inggris selalu berpikir (bahkan bertindak) “to the point”. Halini dapat dibandingkan dengan struktur bahasa di Timur yang cenderung melingkar atau‘zigjag’. Secara umum, pemikiran dan tindakan orang Timur tidak se-“to the point” orangAmerika. Penelitian yang dilakukan di Australia pada sekelompok anak berusia 4-5 tahundari dua komunitas asli—Warlpiri dan Anindilyakawa—yang tidak memiliki ungkapanverbal untuk angka menunjukkan bahwa sanak-anak tersebut dapat mengerjakan (berpikir) beberapa operasi matematika dasar tanpa menggunakan bahasa. Akan tetapi, merekamengakui juga bahwa untuk memikirkan konsep-konsep yang lebih rumit, para pesertamembutuhkan bahasa. Rumus-rumus ilmiah, seperti E=MC

2
, misalnya tidak akan bermakna bagi seseorang bila dia tidak mengetahui pengertian dari
Energy
(E),
Mass
(M)dan
 speed of light
(C).(2) Bahasa Sebagai Media Komunikasi5