ILMU DAN KEBUDAYAAN

7.1 Manusia dan Kebudayan

Manusia dalam kehidupan mempunyai kebutuhan yang banyak sekali. Adanya kebutuhan hidup iilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut. Dalam hal ini, menurut Ashley Montagu, kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadapa kebutuhan dasar hidupnya.

Manusia berbeda dengan binatang bukan saja dalam banyaknya kebutuhan namun juga dalam cara memenuhi kebutuhan tersebut. Kebudayaanlah, dalam konteks ini, yang memberikan garis pemisah antara manusia dan binatang. Maslow mengidentifikasikan lima kelompok kebutuhan manusaia yakni kebutuhan fisiologi, rasa aman, afiliasi, harga diri dan pengembangan potensi.

7.2 Kebudayaan dan Pendidikan

Allport, Venon dan lindzey (1951) mengidentifikasikan enm nilai dasar dalam kebudayaan yakni nilai teori, ekonomi, estetika, sosial, politik, dan agama .Yang dimaksud dengan nilai teori adalah hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti rasionalisme, empirisme dan metoda ilmiah.

Setiap kebudayaan mempunyai skala hirarki mengenai mana yang lebih penting dan mana yang kurang penting dari nilai-nilai tersebut di atas serta mempunyai penilaian sendiri dari tiap-tiap katagori.

7.3 Ilmu dan Perkembangan Kebudayaan Nasional


Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur kebudayaan. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi.

Disatu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung kondisi kebudayaannya, tapi dipihak lain pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan.

Menurut Talcot Persons :”Ilmu dan kebudayaan itu terpadu secara intim dengan seluruh struktur sosial dan tradisi kebudayaan “

Peranan ganda ilmu dalam pengembangan kebudayaan nasional adalah sebagai berikut :

1.Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya perkembangan kebudayaan nasional

2.Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.

Kedua hal ini terpadu satu sama lain dan sukar dibedakan. Pengkajian perkembangan kebudayaan nasioal tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu.

Seiring perjalan waktu, dewasa ini kurun ilmu dan teknologi menjadi pengembangan utama bidang ilmu dan secara tidak langsung kebudayaan kita tak terlepas dari pengaruhnya, sehingga kita harus ikut memperhitungkan hal ini. Untuk itu dibicarakan peranan ilmu sebagai sumber nilai yang ikut mendukung pengembangan kebudayaan nasional.

7.4 Ilmu Sebagai Suatu Cara Berpikir

Berpikir ilmiah merupakan kegiatan berpikir yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, yang memiliki dua kriteria utama, yaitu :

1. Pernyataan harus logis

2. Didukung fakta empiris (Empiris : berdasarkan pengalaman dan pengetahuan)

Kedua kriteria tersebut saling mengikat, yang pertama setiap pernyataan yang disampaikan harus logis dan diperolah dari fakta-fakta empiris, merupakan hakikat berpikir ilmiah. Dari hakikat ini, kita dapat menyimpulakan beberapa karakteristik ilmu :

1.Ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar

2.Akar berpikir yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang ada.

3.Pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif.

4.Mekanisme yang terbuka terhadap koreksi

Maka disimpulkan manfaat yang dapat diperoleh dari karakteristik ilmu ialah rasional,logis,objektif dan terbuka dan kritis sebagai landasannya

7.5 Ilmu Sebagai Asas Moral

Artinya dalam menetapkan suatu pernyataan apakah itu benar atau tidak maka seorang ilmuwan akan menarik kesimpulannya kepada argumentasi yang terkandung dalam pernyataan itu dan bukan kepada pengaruh yang berbentuk kekuasaan dari kelembagaan yang mengeluarkan pernyataan itu.

Hal ini sering menempatkan ilmuwan pada tempat yang bertentangan dengan pihak yang berkuasa yang mungkin mempunyai kriteria kebenaran yang lain.Kriteria ilmuwan dan politikus dalam membuat pernyataan adalah berbeda menurut Szilard : jika seorang ilmuwan mengatakan sesuatu, rekan rekannya pertamakali akan bertanya apakah yang dinyatakan itu mengandung kebenaran.

Sebaliknya jika seorang politikus mengatakan sesuatu maka rekan reknnya pertama kali akan bertanya, ” mengapa ia menyatakan hal itu ” baru kemudian atau mungkin juga tidak, mereka mempertanyakan apakah pernyataan itu mengandung kebenaran.

Disamping itu kebenaran bagi ilmuwan mempunyai kegunaan yang universal bagi umat manusia dalam meningkatkan martabat ke manusiaanya. Secara nasional kaum ilmuwan tidak mengabdi kepada golongan, klik politik atau kelompok lain, secara internasional kaum ilmu wan tidak mengabdi kepada ras,ideology, dan factor – factor pembatasolainnya. Dua karakteristik ini merupkan asas moral bagi ilmuwan yakni me ninggikan kebenaran dan pengabdian secara universal.

Dalam kenyataannya pelaksanaan asas moral ini tidak mudah sebab tahap perkembangan ilmu yang sangat awal kegiatan ilmiah ini dipengaruhioolehostrukturokekuasaanodarioluar.oMenurutoBachtiarodalamoJujun.oS. Suriasumantri ( 1998,275) lebih menonjol lagi pada Negara yang sedang berkembang , karena sebagian besar kegiatan keilmuan merupakanokegiatanoaparaturoNegara.

7.6 Nilai-Nilai Ilmiah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional

Ada 7 nilai yang terkandung dalam dari hakikat keilmuan yaitu kritis, rasional, logis, objektif , terbuka, menjunjung kebenaran dan pengabdian universal.Ketujuh sifat ini sangat akan sangat konsisten untuk membentuk bangsa yang modern. Karena bangsa yang modern akan menghadapi banyak tantangan di segala bidang kehidupan. Pengembangan kebudayaan nasional pada hakikatnya adalah perubahan kebudayaan konvensional kearah yang lebih aspirasi.

7.7 Ke Arah Peningkatan Peranan Keilmuan

Jika menurut kita benar bahwasanya ilmu bersifat mendukung budaya nasional,maka kita perlu meningkatkan peranan keilmuan dalam kehidupan kita.

Beberapa langkah yang dapat kita gunakan yang pada pokoknya mengandung beberapa pemikiran sebagai berikut:

1.Ilmu merupakan bagian kebudayaan,sehingga setiap langkah dalam kegiatan peningkatan ilmu harus memperhatikan kebudayaan kita.

2.Ilmu merupakan salah satu cara menemukan kebenaran.

3.Asumsi dasar dari setiap kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah percaya dengan metode yang digunakan.

4.Kegiatan keilmuan harus dikaitkan dengan moral.

5.Pengembangan keilmuan harus seiring dengan pengembangan filsafat

6.Kegiatan ilmah harus otonom dan bebas dari kekangan struktur kekuasaan.

Keenam hal ini merupakan langkah-langkah untuk memberi kontrol bagi masyarakat terhadap kegiatan ilmu dan teknologi.

7.8 Dua Pola Kebudayaan

Dua pola kebudayaan dan ilmu yang begulir di Indonesia, adalah ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social. Kenapa hal ini terjadi,ini terjadi karena besarnya perbedaan antara ilmu social dan ilmu alam. Contohnya, jika kita belajar ilmu alam dengan subjek batu, kira-kira saat lain di teliti lagi maka kemungkinan besar akan berhasil dengan nilai yang sama,tetapi tidak demikin dalam ilmu social,dalam ilmu social, ilmu social bergerak lebih fleksibel dan dapt berubah sewaktu-waktu.

Namun kedua hal itu bukan merupakan masalah, kedua hal itu tidak mengubah apa yang menjadai tujuan penelitian ilmiah. Ilmu bukan bermaksud mengumpulkan fakta tapi untuk mencari penjelasan dari gejala-gejala yang ada, yang memungkinkan kita mengetahui kebenaran hakikat objek yang kita hadapi.

Ada dua factor yang menjadi landasan suatu analisis kuantitatif ilmu social yaitu: sulitnya melakukan pengukuran,karena emosi dan aspirasi merupakan unsure yang sulit dan yang kedua banyaknya variable yang mempengaruhi tingkah laku manusia.

Hal seperti inilah yang menyebabkan ilmu alam lebih maju dari pada ilmu social. Itu dikarenakan ilmu social lebih terpaku pada tahap kualitatif,dan untuk mengubah ini ilmu social harus lebih masuk ketahap kuantitatif.

Di Indonesia hal seperti ini masih berlaku,tebukti adanya dua penjurusan dalam bidang kajian ilmu,yaitu ilmu social dan ilmu alam,dan dalam pelaksanaannya ilmu alam selalu dianggap lebih bergengsi di banding ilmu social. Itu membuat sebagian masyarakat kita terobsesi untuk masuk jurusan ilmu alam meski mungkin lebih berbakat dalam bidang social, sehingga secara tidak langsung menghambat perkembangan ilmu social.

Pada akhirnya harus kita sadari bahwa adanya dua jurusan dalam bidang ilmu ini memerlukan suatu usaha yang fundamental dan sistematis dalam menghadapinya. Perlu dicari titik temu diantara kedua bidang ini sehingga satu sama lain akan saling melengkapi,bukan saling terpisah. Karena bagaimanapun ilmu social tidak dapat terpisah dan berdiri sendiri dan begitupun ilmu alam tetap terikat secara social.

 

BAB VIII

ILMU DAN BAHASA

8.1 Tetang Terminologi : Ilmu, Ilmu Pengetahuan dan sains ?

Dua Jenis Ketahuan

Manusaia dengan segenap kemampun kemanusiannya seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindra dan intuisi mampu menangkap alam hidupnya dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam berbagai bentuk “ketahuan umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah, filsafat.

Terminologi ketahuan ini adalah termonologi artifisial yang bersifat sementara sebagai analisis yang pokoknya diartikan sebagai keseluruhan bentuk dari produk kegiatan manusia dalam usaha untuk mengetahui sesuatu . Apa yang kita peroleh dalam proses mengetahui tersebut tanpa memperhatikan obyek, cara dan kegunaannya kita masukan kedalam kategori yang disebut ketahuan ini. Dalam bahasa inggris sinonim dari ketahuan ini adalah knowledge.

Ketahuan atau knowledge ini merupakan terminologi generik yang mencakup segenap bentuk yang kita tahu seperti filsafat, ekonomi, seni, beladiri, cara menyulam dan biologi itu sendiri.

8.2 Politik Bahasa Nasional

Pada tanggal 28 oktober 1928 bangsa Indonesia telah memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasioal. Alasan utama pada waktu itu lebih ditekankan pada fungsi kohesif bahasa Indonesia sebagai sarana untuk mengintegritaskan berbagai suku kedalam satu bangsa yakni Indonesia. Tentu saja terdapat juga evalusai yang berkonotasi dengan ketentuan Bahasa Indonesia selaku fungsi komunikatif yakni fakta bahwa Bahasa Indonesia merupakan lingua franca dari sebaian besar penduduk, namun kalau dikaji lebih dalam , maka kriteria bahasa sebagai fungsi kohesif itulah yang merupakan kriteria yang menentukan.

Selaku alat komuniksi pada pokonya bahsa mencakup tiga unsur yakni, pertama, bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang berkonotasi perasaan (emotif), kedua, berkonotasi sikap (afektif) dan, ketiga, berkonotasi pikiran (penalaran). Atau secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi komunikasi bahasa dapat diperinci lebih lanjut menjadi fungsi emotif, afektif dan penalaran.

Perkembangan bahasa tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sektor-sektor lain yang juga tumbuh dan berkembang. Sekiranya bahasa berkembang terisolasi dari perkembangan sektor-sektor lain maka bahasa mungkin bersifat tidak berfungsi dan atau bahkan kontra produktif (counter-productive).

 

BAB IX

PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH

  1. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah

    1.Pengajuan Masalah

  • Latar Belakang Masalah
  • Identifikasi Masalah
  • Pembatasan Masalah
  • Perumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Kegunaan Penelitian

2.Penyusunan Kerangka Teoritis Dan Pengajuan Hipotesis

  • Pengkajian mengenai teori-teori yang akan dipergunakan dalam analisa.
  • Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan;
  • Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis dengan mempergunakan premis-premis sebagaimana tercantum dalam butir (1) dan butir (2) dengan mennyatakan secara tersurat postulat, asumsi dan prinsip yang dipergunakan (sekiranya dipergunakan);
  • Perumusan hipotesis

3. Metodologi Penelitian

  • Tujuan penelitian secara lengkap dan operasional dalam bentuk pernyataan yang mengidentifikasi variabel-variabel dan karakteristik hubungan yang akan ditelit;
  • Tempat dan waktu penelitian dimana akan dilakukan generalisasi mengenai variabel-variabel yang diteliti;
  • Metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisai yang diharapkan;
  • Teknik pengambilan contoh yang relevan dengan tujuan penelitian, tigkat keumuman dan metode penelitian.
  • Teknik pengumpulan data yang mencakup identifikasi variabel yang akan dikumpulkan, sumber, teknik pengukuran, instrumen dan teknik mendapatkan data.
  • Teknik analisis data yang mencakup langkah-langkah dan teknik analisis yang dipergunakan yang ditetapkan berdasarkan pengajuan hipotesis ( sekiranya mempergunakan statistika maka tulisan hipotesis nol dan hipotesis tandingan; H0 / H1).

4. Hasil Penelitian

  • Menyatakan variabel-variabel yang diteliti;
  • Menyatakan teknik analisis data;
  • Mendeskripsikan hasil analisis data;
  • Memberikan penafsiran terhadap kesimpulan analisis data;

5 Ringkasan dan Kesimpulan

  • Deskripsi singkat mengenai masalah, krangka teoretis, hipotesis, metodologi dan penemuan penelitian;
  • Kesimpulan penelitian yang merupakan sintesis berdasarkan keseluruhan aspek tersebut di atas;
  • Pembahasan kesimpulan penelitian dengan melakukan perbandingan terhadap penelitian lain dan pengetahuan ilmiah yang relevan;
  • Mengkaji implikasi penelitian;
  • Mengjukan saran

6.Abstrak

7.Daftar Pustaka

8.Riwayat Hidup

9.Usulan Penelitian

10. Lain-lain

11. Penutup

12. Catatan Akhir

9.2 Teknik Penulisan Ilmiah

Teknik Penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan. Komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan tepat yang memungkinkan proses penyampaian pesan yag bersifat reproduktif dan impersonal.

Bahasa yang dipergunakan harus jelas di mana pesan mengenai obyek yang ingin dikomunikasikan mengandung informasi yang disampaikan sedemikian rupa sehingga si penerima betul-betul mengerti tentang isi pesan yang disampaikan kepadanya.

9.3 Teknik Notasi Ilmiah

Tanda catatan kaki diletakan di ujung kalimat yang kita kutip dengan mempergunakan angka arab yang diketik naik setengah spasi. Catatan kaki pada tiap bab diberi nomor urut mulai dari anka 1 sampai habis dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab yang baru. Satu kalimat mungkin terdiri dari beberapa catatan kaki sekiranya kalimat itu terdiri dari beberapa kutipan. Semua kutipan, baik yang dikutup secara langsung maupun secara tidak langsung, Sumbernya kemudian kita sertakan dalam daftar pustaka.

 

BAB X